Showing posts with label PMR. Show all posts
Showing posts with label PMR. Show all posts

Materi Konsep Dasar Keperawatan

10:18 PM Add Comment
Kali ini akan kita bahas perihal materi pelaajaaran sekolah tingkat menengah kejurusan ( Sekolah Menengah kejuruan ) untuk jurusan kesehatan. Nach sehubung ada teman yang menginginkan Materi Konsep Dasar Keperawatan.

Disini Saya akan membagi ilmu perihal materi tersebut. dari banyak sekali media yang saya gunakan untuk mencari materi konsep dasar keperawatan, dibawah sini yang berdasarkan saya lengkap perihal materi tersebut.

KONSEP DASAR KEPERAWATAN

KONSEP DASAR KEPERAWATAN
By Ns. Antonio Domingos Moreira, S.Kep.

  1. I.                    PROSES KEPERAWATAN
Ilmu  keperawatan di dasarkan pada suatu teori yang sanga luas.
Proses Keperawatan 
è  Metode
è Dimana suatu konsep diterapkan dalam praktik Keperawatan
è Bisa di sebut sebagai suatu pendekatan Problem – Solving yang memerlukan ilmu, teknik dan ketrampilan interpersonal dan di tujukan untuk memenuhi kebutuhan Klien dan Keluarga.
è Proses Keperawatan terdiri dari ; 5 tahap yang bekerjasama :
  1. Pengkajian
  2. Diagnosis
  3. Perencanaan
  4. Pelaksanaan
  5. Dan Evaluasi
è Tahap tersebut berintegrasi terhadap fungsi Intelektual Problem - Solving dalam mendefinisikan suatu tindakan Perawatan.
è Proses Keperawatan merupakan lima tahap proses konsisten sesuai dengan perkembangan profesi keperawatan ( pertama kali oleh Hall, 1955 ).
è Proses Keperawatan  telah dianggap sebagai suatu dasar aturan praktik Keperawatan ,  ( ANA, 1973 ).
è Dasar pengembangan standard praktik keperawatan
è Dan juga sebagai kriteria dalam progrsmsertifikasi
è Standar legal praktik keperawatan
è Masuk dalam aktivitas pendidikan Keperawatan  ( Kurikulum D-III Kep. & S1 Keperawatan ).
  1. II.                  Tujuan
  • Proses Keperawatan secara umum yakni untuk menciptakan suatu kerangka konsep berdasarkan kebutuhan individu dari klien, keluarga, dan masyarakat sanggup terpenuhi.
  • Tindakan yang di tujukan untuk memenuhi tujuan keperawatan
  1. III.                Organisasi
Ke 5 tahap proses keperawatan tersebut sebagai suatu organisasi yang mengatur pelaksanaan asuhan Keperawatan berdasarkan suatu rangkaian pengelolaan yang sistematis dlm memeberikan asuhan keperawatan kepada klien.


  1. IV.               Karakterisitk
Proses Keperawatan mempunyai  6 karateristik :
  1. 1.      Tujuan
Proses Keperawatan mempunyai tujuan yang terang melalui suatu tahapan dalam meninmgkatkan kualitas asuhan Keperawatan kepada klien
  1. 2.      Sistematika
  • Menggunakan suatu pendekatan yang terorganisir untuk mencapai suatu tujuan.
  • Menghindari dilema yang bertentangan dengan tujuan intuisi pelayanan kesehatan/Keperawatan.
  • PK ditujukan pada suatu perubahan respon klien yang diidentifikasi melalui hubungan antara perawat dengan klien.
  1. 3.      Dinamik
PK ditujukan dalam mengatasi dilema – dilema kesehatan klien yang di laksanakan secara berkesinambungan.
  1. 4.      Interaktif
Adanya hubungan timbale balik antar perawat, Klien, Keluarga dan tenaga   lainnya.
  1. 5.      Fleksibel
Proses yang di lihat dari 2 konteks :
  • Dapat diadopsi pada praktik keperawatan dalam situasi apapun, spesialisasi yang bekerjasama dengan individu, kelompok, atau masyarakat
  • Tahapannya bisa dipakai secara berurutan dan dengan persetujuan kedua belah pihak.
  1. 6.      Teoritis
Setiap langkah dalam proses keperawatan selalu di dasarkan pada suatu ilmu yang luas, khususnya ilmu dan model Keperawatan yang berlandaskan pada Filosofi keperawatan bahwa asuhan keperawatan kepada klien harus menekankan pada 3 aspek :
  • Humanistik
Memandang dan memperlakukan klien sebagai manusia
  • Holistik
Intervensi keperawatan Harus sanggup memenuhi kebutuhan dasar insan secara utuh ( bio – psiko – sosio – spiritual ).
  • Care
Asuhan Keperawatan yang diberikan harus berlandaskan pada standard praktik keperawatan dan moral keperawatan.


  1. V.                 IMPLIKASI KEPERAWATAN
Penerapan proses Keperawatan mempunyai implikasi atau dampak terhadap:
  1. 1.      Profesi Keperawatan
  • Secara profesional proses keperawatan menyajikan suatu lingkup praktik keperawatan.
  • Melalui 5 langkah proses keperawatan
  • Di Timor – Leste masih adopsi dari standard keperawatan Indonesia dan ANA ( American Nurses Association ), 1973.
  • Undang – undang Kesehatan 57
  1. 2.      Klien
  • Penggunaan proses Keperawatan sangat bermanfaat bagi klien dan Keluarga
  • Klien dan Keluarga berpartisipasi secara aktif dalam keperawatan dengan melibatkan ke dalam 5 langka proses keperawatan
  1. 3.      Perawat
  • Proses Keperawatan akan meninmgkatkan kepuasan dalam bekerja dan meningkatkan perkembangan profesionalisme.
  • Mningkatkan hubungan antara perawat denga klien sanggup di lakukan melalui penerapan proses keperawatan
  • PK meningkatkan suatu pengembangan dan kretifitas dalam klarifikasi dilema klien

  1. VI.               Teori – teori yang mendasari Proses Keperawatan :
    1. 1.      Teori system, terdiri dari :
  • Kerangka kerja yang bekerjasama dan keseluruhan social, manusia, struktur dan dilema –masalah organisasi.
  • Perubahan internal dan lingkungan sekitarnya
  • Sistem tersebut terdiri dari :
    • Tujuan
    • Proses
    • Isi
  1. Tujuan :
  • sesuatu yang harus dilaksanakan
  • Arah sistem
  1. Proses
  • Berfungsi dalam memenuhi tujuan yang hendak di capai
  1. Isi
  • Terdiri dari potongan yang membentuk system
  • Feedback ( umpan balik )
  • Dapat dievaluasi
  • Memjelaskan hasil dari tindakan yg telah dilaksanakan
  • Antara teori system dan Proses keperawatan sanggup dijelaskan :
  • Input à merupakan suatu kumpulan data hasil pengkajian beserta permasalahan àSusun suatu planning dan tindakan keperawatan yang tepat.
  • Output à Untuk menjelaskan hasil dari tindakan yang telah dilaksanakan
  1. 2.      Teori Kebutuhan Dasar Manusia
  • Berintegrasi satu sama lain (motivasinya)
  • Memenuhi kebutuhan dasar :
    • Fisiologis
    • Keamanan
    • Kasih sayang
    • Harga diri
    • Aktualisasi diri
    • Kebutuhan dasar insan à terpenuhinya tingkat kepuasaan biar insan bisa mempertahankan hidupnya.
    • Peran pereawatn à memenuhi kebutuhan dasar manusia
    • Tanggungjawab :
      • Memberikan dukungan
      • Menfasilitasi
      • Berkomunikasi kepada klien sehat dan sakit
  1. 3.      Teori persepsi
  • Perubahan dalam pemenuhan kebutuhan dasar insan sangat di pengaruhi oleh persepsi individu.
  • Interaksi
  1. VII.             Teori informasi dan Komunikasi
  • Tujuan asuhan keperawatan yakni untuk mengindentifikasi dilema Klien ( apakah keadaan sehat atau sakit ).
Proses Keperawatan sbg salah satu pendekatan utama dalam pemberian asuhan keperawatan.
  • Proses keperawatan merupakan suatu siklus, sebab memerlukan suatu modifikasi penhkajian ulang, perencanaan ulang, memperbaharui tindakan dan mengevaluasi ulang.
  • Langka dalam proses keperawatan diharapkan suatu informasi yang akurat apabila perawat bisa menjalin komunikasi dengan baik :




Umpan balik


Pengirim  ...................Pesan ............................Penerimaan



  1. VIII.           Prinsip – prinsip Etik Keperawatan yang menjadi pertimbangan dalam pelaksanaan asuhan keperawatan sebagai berikut :
    1. 1.      Justice ( Asasa Keadilan )
  • Setiap prioritas tindakan yang diberikan harus berdasarkan kondisi klien.
  • Tidak ada diskriminasi
  1. 2.      Autonomy (Asas menghormati otomoni )
  • Setiap insan mempunyai hak untuk memilih tindakan terhadap dirinya sendiri.
  1. 3.      Benefience ( Asas manfaat )
  • Setiap tindakan yang di berikan kepada klien harus bermanfaat bagi klien dan menghindarkan dari kecacatan
  1. 4.      Veracity ( Asas Kejujuran )
  • Perawat dalam berkomunikasi harus menyampaikan yang benar dan jujur kepada klien.
  1. 5.      Fidelity ( Asas komitmen )
  • Apa yangh di laksanakan oleh perawat harus di dasarkan pada tanggung jawab moral dan profesi
  1. IX.                MASALAH – MASALAH ETIK KEPERAWATAN DI TIMOR – LESTE
    1. Wadah organisasi Profesi tidak memerjuangkan profesi Perawat, tetapi organisasi profesi di Politisasi, Kepentingan Kelompok, Tidak mempunyai standard competency.
    2. Landasan moral dan moral yang paling besar lengan berkuasa dan fundamental yakni Agama.
    3. Perkembangan ilmu, penelitian dan teknologi kedokteran serta Keperawatan berkembang secara global tetapi tidak adanya perhatian dari pemerintah terutama Ministerio da Saúde.
    4. Tersedianya tenaga perawat tetapi tidak di perdayakan gunakan untuk kepentingan Masyarakat.





  1. HUBUNGAN ANTARA TAHAP PROSES KEPERAWATAN ( Alfaro, 1998 ).
  2. Pengkajian
Pengkajian  yakni tahap awal dari proses Keperawatan dan merupakan suatu proses yang sistematis dalam pengumpulan data dari banyak sekali sumber data untuk mengevaluasi dan mengindentifikasi status kesehatan klien ( Lyer etal, 1996 ).
Tahap pengkajian merupakan dasar utama dalam menunjukkan asuhan keperawatan sesuai dengan kebutuhan individu. Oleh sebab itu pengkajian yang akurat, lengkap, sesuai dengan kenyataan, kebenaran data sangat penting dalam merumuskan suatu diagnose keperawatan dan menunjukkan pelayanan keperawatan sesuai dengan respon individu.
  1. 1.      Standar praktik Keperawatan dari ANA
PENGKAJIAN
  
                                                             
DIAGNOSIS
PERENCANAAN
PELAKSANAAN


EVALUASI
                                                      

  1. 2.       Data dasar dan Fokus

  1. Pengkajian Keperawatan
  • Ø data dasar yang komprehensif yakni kumpulan data yang berisikan mengenai status Kesehatan klien, kemampuan klien untuk mengelola kesehatan dan keperawatannya terhadap dirinya sendiri, dan hasil konsultasi media ( terapis ) atau profesi kesehatan lainnya.
  • Ø Data focus Keperawatan adalah data perihal perubahan – perubahan atau respon klien terhadap kesehatan dan dilema kesehatannya serta hal – hal yang meliputi tindakan yang di lalsanakan kepada klien.
  1. Fokus pengkajian Keperawatan
  • Ø Dalam menyusun pengkajian keperawatan tidak sama dengan pengkajian medis.
  • Ø Pengkajian focus à suatu pemilihan data spesifik yang ditentukan oleh perawat , klien dan keluarga berdasarkan keadaan klien.
  1. 3.       Pengumpulan data ( Pulta )
  2. Tipe data
Ada 2 tipe data pada pengkajian :
  1. Data subyektif
Data yang di dapatkan dari klien sebagai suatu pendapat terhadap suatu situasi dan kejadian. Informasi  tersebut tidak sanggup ditentukan oleh perawat secara independen tetapi melalui suatu interaksi atau komunikasi.
Data subyektif sering didapatkan, dari riwayat keperawatan termasuk persepsi klien, perasaan, dan ilham perihal status kesehatannya.
Ex : klarifikasi klien perihal nyeri, lemah, Frustasi, mual.
Informasi yang diberikan sumber lain, ex husi familia, konsoleiro, husi team saude seluk
  1. Data obyektif
Data yang sanggup diobservasi dan diukur .
Ex; data obyektif : frekuensi pernafasan, Tekanan darah, edema dan berat tubuh no seluk – seluk tan.
  1. 4.       Karakteristik data
  2. Lengkap
  3. Akurat dan nyata
  4. Relevan
  5. 5.       Sumber data
  6. Klien  à sumber utama data ( primer )
  7. Orang terdekat : orang tua, suami, istri, anak atau teman klien
  8. Catatan Klien : di tulis oleh anggota tim kesehatan sanggup dipakai sumber informasi di dalam riwayat keperawatan
  9. Riwayat penyakit :
  • Pemeriksaan fisik
  • Catatan perkembangan
  1. Konsultasi :
  •  anggota tim kesehatan spesialis
  • Menentukan diagnose medis dan keperawatan
  • Melakukan tindakan medis
  1. Hasil investigasi diagnostic
  • Hasil investigasi Laboratorium
  • Tes diagnostic
  • Hasil investigasi diagnostic
  1. Catatan medis dan anggota tim kesehatan lainnya
  • Para Personil  yang bekerjasama dengan klien dan menunjukkan tindakan, mengevaluasi, dan mencatat hasil pada status klien
  • Catatan kesehatan terdahulu sebagai informasi
  1. Perawat lain
  • Jika klien di rujuk dari pelayanan kesehatan lain
  1. Kepustakaan
  • Membaca literature yang bekerjasama dengan dilema klien
  1. 6.       Metode pengumpulan data
Ada 3 metode yang dipakai dalam pemgumpulan data pada tahap pengkajian :
  1. Komunikasi yang efektif
  2. Observasi
  3. Pemeriksaan fisik
Teknik tersebut sangat bermanfaat bagi perawat dalam pendekatan kepada klien secara rasional, sistematik dalam mengumpulkan data, merumuskan diagnose keperawatan, merencanakannya.
                                              II.  DIAGNOSE KEPERAWATAN
  1. a.       Pengertian
  • Diagnose Keperawatan yakni suatu pernyataan yang menjelaskan respons    insan ( status kesehatan atau resiko perubahan contoh ) dari individu kelompok diamana perawat secara akontabilitas sanggup mengindentifikasi dan menunjukkan intervensi secara niscaya untuk untuk menjaga status kesehatan menurunkan, membatasi, mencegah, dan merubah ( Carpenito 2000 ).
  • Gordon, 1976 : DK à dilema kesehatan actual dan potensial dimana berdasarkan pendidikan dan pengalamannya.
  • NANDA à Kepeutusan klinik perihal respon individu, keluarga dan masyarakat perihal dilema kesehatan actual dan potensial
  1. b.      Tujuan diagnose Keperawatan
  • Untuk mengindentifikasi dilema adanya respon kliennterhadap status kesehatan atau penyakit
  • Faktor – factor yang menunjang atau mengakibatkan suatu dilema ( etilologies )
  • Mengindentifikasi kemampuan klien untuk mencegah atau menuntaskan masalah
  1. c.       Langkah – langkah memilih DK :
  • Klasifikasi dan analisa data
  • Interpretasi data
  • Validasi data
  • Perumusan diagnose Keperawatan
  1. d.      Merumuskan DK ( Carpeneto, 2000 ) sanggup dibedakan :
  • Aktual : Menjelaskan dilema aktual ketika ini sesuai dengan data klinik yang di temukan :
Syarat : Menegakkan diagnose keperawatan actual harus ada unsure PES.
Misal : data , muntah, diare, dan turgor buruk selama 3 hari
DK : Kekurangan volume cairan tubuh b/kehilangan cairan secara abnormal
  • Resiko : Menjelaskan dilema kesehatan yang aktual akan terjadi bila tidak di lakukan intervensi.
Syarat : Menegakkan resiko DK adanya unsure PE ( Problem & Etiologi )
Penggunaan istilah “ resiko dan resiko tinggi tergantung dari tinbgkat keparahan/kerentanan terhadap masalah.
Misal : Resiko gangguan integritas kulit bekerjasama dengan diare yang terus menerus.
  • Kemungkinan ( potensial ): Menjelaskan bahwa perlu adanya data aksesori untuk memastikan dilema keperawatan kemungkinan.
Syarat : Menegakkan kemungkinan diagnose kep. Adanya unsur respon dan factor yang mungkin sanggup mengakibatkan dilema tetapi belum ada.
DK : Kemungkinan g3 konsep diri : rendah diri/teroisolasi b/d diare.


III. PERENCANAAN
  1. A.      PENGANTAR
Perencanaan meliputi pengembangan taktik desain untuk mencegah, mengurangi atau mengoreksi dilema – dilema yang diidentifikasi pada diagnose keperawatan . Secara tradsional, planning keperawatan diartikan sebagai suatu dokumen goresan pena tangan dalam menuntaskan masalah, tujuan dan intervensi.
Makara Rencana Keperawatan merupakan metode komunikasi perihal asuhan keperawatan kepada klien. Setiap klien yang memerlukan asuhan keperawatan perlu suatu perencanaan yang baik. Sehingga semua tindakan keperawatan harus di standarisasi, dan standard tindakan tersebut sanggup di baca.
  1. B.      TUJUAN PERENCANAAN
Tujuan planning tindakan keperawatan sanggup di bagi menjadi :
  1. Tujuan Administratif
    1. Untuk mengidentifikasi focus keperawatan kepada klien atau kelompok
    2. Untuk membedakan tanggungjawab perawat dengan profesi kesehatan lainnya
    3. Untuk menyediakan suatu kriteria guna pengulangan dan penilaian keperawatan
    4. Untuk menyediakan kriteria pembagian terstruktur mengenai klien
    5. Tujuan Klinik
      1. Menyediakan suatu aliran dalam penulisan
      2. Mengkomunikasikan dengan staf perawat apa yang diajarkan, apa yang diobservasi, dan apa yang dilaksanakan
      3. Menyediakan kriteria hasil ( outcomes ) sebagai pengulangan dan penilaian keperawatan
      4. Rencana tindakan yang spesifik secara pribadi bagi individu, Keluarga, dan tenaga kesehatan lainnya untuk melaksanakan tindakan.
      5. C.      LANGKAH – LANGKAH PERENCANAAN
Untuk mengevaluasi planning tindakan keperawatan, maka ada beberapa komponen yang perlu diperhatikan :
  1. Menentukan prioritas masalah
Melalui pengkajian, perawat akan bisa mengidentifikasi respon klien yang actual atau potensial yang memerlukan suatu tindakan. Dalam memilih perencanaan perlu menyusun suatu system untuk memilih diagnose yangn akan diambil tindakan pertama kali. Salah satu system yang bisa dipakai yakni hirarki Kebutuhan manusia.
  1. Menentukan kriteria hasil ( outcomes )
Tujuan klien dan tujuan keperawatan yakni standar atau ukuran yang dipakai untuk mengevaluasi kemajuan klien atau ketrampilan perawat.
Tujuan klien :
merupakan pernyataan yang menjelaskan suatu sikap klien, keluarga, atau kelompok yang sanggup diukur sesudah intervensi keperawatan di berikan.
Tujuan Keperawatan :
Adalah pernyataan yang menjelaskan suatu tindakan yang sanggup diukur berdasarkan kemampuan dan kewenangan perawat.


Pedoman penulisan kriteria hasil berdasarkan SMART :
S           = Spesifik ( tujuan harus spesifik dan tidak mengakibatkan arti ganda )
M         = Measurable ( tujuan keperawatan harus sanggup diukur, khususnya tentang
                 Perilaku klien; sanggup di lihat, didengar, diraba, dirasakan dan dibau )
A           = Achievable ( tujuan harus di capai )
R           = Reasonable ( Tujuan harus sanggup dipertanggungjawabkan secara ilmiah )
T           = Time ( Tujuan keperawatan )

  1. Menentukan planning tindakan
Rencana tindakan yakni desain spesifik intervensi untuk membantu klien dalam mencapai kriteria hasil. Rencana tindakan dilaksanakan berdasarkan komponen penyebab dari diagnose keperawatan.
Intervensi keperawatan yakni suatu tindakan pribadi kepada klien yang dilaksanakan oleh perawat,
  1. Dokumentasi
    1. Definisi
Rencana tindakan keperawatan yakni suatu proses informasi, penerimaan, pengiriman, dan penilaian sentra planning yang dilaksanakan oleh seorang perawat profesional.
  1. Tujuan
Rencana tindakan keperawatan di tulis dalam suatu bentuk yang bervariasi guna mempromosikan perawatan yang meliputi :
  1. Perawatan individu
  2. Perawatan yang kontinyu
  3. Komunikasi
  4. Evaluasii
  5. Karakterisik
    1. Di tulis oleh perawat
    2. Dilaksanakan sesudah kontak pertama kali dengan klien
    3. Diletakkan ditempat yang strategis ( gampang didapatkan )
    4. Informasi yang baru.

IV. PELAKSANAAN
  1. Pelaksanaan
Adalah inisiatif  dari planning tindakan untuk mencapai tujuan yang spesifik ( Lyer,1996 ). Tahap pelaksanaan dimulai sesudah planning tindakan disusun dan ditujukan pada nursing orders untuk membantu klien mencapai tujuan yang diharapkan. Oleh sebab itu planning tindakan yang spesifik dilaksanakan untuk memodifikasi factor – factor yang mensugesti dilema kesehatan klien.
  1. Tujuan
Tujjuan dari pelaksanaan  yakni membantu klien dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan, yang meliputi peningkatan kesehatan, pencegahan penyakit, pemulihan kesehatan dan memfasilitasi koping. Perencanaan tindakan keperawatan akan sanggup dilaksanakan dengan baik.
  1. Tahap tindakan Perawatan
Ada 3 tahap dalam keperawatan :
  1. Persiapan
Persiapan tersebut meliputi kegaiatan – kegiatan :
  1. Review tindakan keperawatan yang didentifikasi pada tahap perencanaan
  2. Menganalisa pengetahuan dan ketrampilan keperawatan yang diperlukan
  3. Mengetahui komplikasi dari tindakan keperawatan yang mungkin timbul
  4. Menentukan dan mempersiapkan peralatan yang diperlukan
  5. Mempersiapkan lingkungan yang aman sesuai dengan tindakan yang akan dilaksanakan
  6. Mengindentifikasi aspek hokum dan etik terhadap resiko dari potensial tindakan
  7. Intervensi
Pelaksanaan tindakan perawatan yakni kegiatan pelaksanaan tindakan dari perencanaan untuk kebutuhan fisik dan emosional.
Pendekatan tindakan keperawatan meliputi tindakan ;
  • Ø Independen
    • Suatu kegiatan yang dilaksanakan oleh perawat tanpa petunjuk dan perintah dari dokter atau tenaga kesehatan lain.
    • Dilakasanakan perawat secara independen berdasarkan Diagnose Keperawatan
    • Merupakan suatu respon dimana perawat mempunyai kewenangan untuk melaksanakan tindakan keperawatan secara niscaya berdasarkan pendidikan dan penagalamannya.
    • Kaji klien dan keluarga melalui riwayat keperawatan dan investigasi fisik untuk  status kesehatan klien.
    • Merumuskan diagnose keperawatan
    • Merujuk klien ke tenaga kesehatan lain terhadap tindakan keperawatan dan Medis
    • Evaluasi respon klien
    • Ø Dependen
Tindakan dependen berehubungan dengan pelaksanaan planning tindakan medis

  • Ø Interdependen
Tindakan keperawatan menjelaskan suatu kegaiatan yang memerlukan suatu kerjasama dengan tenaga kesehatan lainnya.
  1. Dokumentasi
Pelaksanaan tindakan keperawatan harus diikuti oleh pencatatan yang lengkap dan akurat terhadap suatu insiden dalam proses keperawatan.
V.  EVALUASI
 a. Pendahuluan
  •   Adalah tindakan intelektual untuk melengkapi proses keperawatan  yang pertanda seberapa  Jauh diagnose keperawatan,  planning  tindakan, dan pelaksanaannya sudah berhasil dicapai.
  •   Evaluasi sebagai sesuatu yang direncanakan , dan perbandingan yang sistermatik pada status    kesehatan klien, ( Griffith, 1986 ).
  • Tahap Evaluasi di letakkan pada simpulan proses keperawatan, Evaluasi merupakan potongan integral pada setiap tahap proses keperawatan.
b.Tujuan Evaluasi
¨      Untuk melihat kemampuan klien dalam mencapai tujuan
¨      Mengadakan hubungan dengan klien berdasarkan respon klien terhadap tindakan keperawatan yang diberikan, sehingga perawat sanggup mengambil keputusan :
  • Ø Mengakhiri planning tindakan keperawatan ( klien telah mencapai tujuan yang ditetapkan
  • Ø Memodifikasi planning tindakan keperawatan ( klien mengalami kesulitan untuk mencapai tujuan ).
  • Ø Meneruskan planning tindakan keperawatan ( klien memerlukan waktu yang lebih usang untuk mencapai tujuan )
c. Proses Evaluasi terdiri dari :
* Mengukur pencapaian tujuan klien
* Membandingkan data yang terkumpul dengan tujuan dan pencapaian tujuan

  1. Hak dan Kewajiban klien
    1. Klien berhak untuk :
      1. Mendapat informasi mengenai tata tertib dan peraturan yang berlaku di Rumah Sakit
      2. Mendapatkan pelayanan yang manusiawi, adil, jujur dan bijaksana
      3. Memperoleh asuhan keperawatan yang bermutu berdasarkan standard profesi keperawatan
      4. Memilih perawat atau dokter yang di kehendaki sesuai peraturan operasional di Rumah sakit
      5. Meminta konsultasi kepada dokter atau perawat lain yang terdaftar di Rumah Sakit
      6. Mendapatkan privacy dan kesehatan dari tindakan keperawatan yang diberikan
      7. Memperolehy informasi perihal penyakit yang diderita, tindakan yang akan dilakukan,kemungkinan penyakit dan tindakan untuk mengatasinya ; alternatif terapi lainnya, prognose, dan estimasi biaya perawatan
      8. Menyetujui dan atau menolak tindakan yang akan dilakukan terhadap dirinya
      9. Mendapatkan kebebasan untuk menjalankan ibadah sesuai dengan agama dan kepercayaan selama tidak menggangu klien lain.
      10. Mengajukan usul, saran, perbaikan atas perlakuan Rumah Sakit terhadap dirinya.
      11. Kewajiban Klien
        1. Mentaati segala peraturan dan tata tertib di Rumah Sakit
        2. Mematuhi segala instruksi dokter atau perawat dalam pengobatannya
        3. Memberikan informasi dengan jujur dan lengkap perihal penyakit yang diderita kepada dokter atau perawat yang merawatnya
        4. Melunasi semua imbalan atas jasa pelayanan Rumah Sakit atau Dokter
        5. Memenuhi hal – hal yang telah disepakti atau perjanjian yang telah dibuatnya.
        6. Hak dan Kewajiban Perawat dan Dokter
          1. Hak Perawat atau Dokter
            1. Mendapatkan proteksi Hukum dalam melaksanakan kiprah sesuai dengan profesinya.
            2. Mengembangkan diri melalui kemampunnya spesialisasi sesuai latar belakang pendidikannya
            3. Menolak cita-cita pasien yang bertentangan dengan peraturan perundang – undang serta standard profesi dank ode Etik profesi
            4. Mendapatkan informasi lengkap dari klien Yang tidak puas terhadap pelayanannya
            5. Meningkatkan pengetahuan berdasarkan perkembangan IPTEK dalam bidang keperawatan secara terus menerus
            6. Diperlakukan adil dan jujur oleh Rumah Sakit maupun klien dan atau keluarganya
            7. Mendapatkan jaminan proteksi terhadap resiko kerja yang berkaitan dengan tugasnya
            8. Diikutsertakan dalam penyusunan atau penetapan kebijaksanan pelayanan kesehatan di Rumag Sakit
            9. Diperhatikan privacynya dan berhak menuntut apabila nama baiknya telah dicemarkan oleh klien atau keluarganya
            10. Menolak pihak lain untuk melaksanakan tindakan yang bertentangan dengan perundang – undangan, standard profesi dan moral profesi
            11. Mendapatkan imbalan yang layak dari jasa profesinya sesuai dengan peraturan/ketentuan yang berlaku.
            12. Perawat dan Dokter berhak memperoleh penghargaan atas jasa dan dedikasi berdasarkan Ilmu dan Skill ( Reward system )
            13. Memperoleh kesempatan menyebarkan karir sesuai bidang profesinya
            14. Kerawjiban Perawat dan Dokter
              1. Mematuhi semua peraturan Rumah Sakit dengan hubungan hokum antara perawat dengan pihak Rumah Sakit
              2. Mengadakan perjanjian tertulis denga pihak Rumah Sakit
              3. Memenuhi hal – hal yang telah disepakati dan dibuatnya
              4. Memberikan asuhan Keperawatan sesuai standar profesi dan otonominya
              5. Menghormati hak – hak pasien
              6. Merujuk klien kepada perawat lain/tenaga kesehatan lainnya yang mempunyai keahlian yang sesuai dengan dilema klien
              7. Memberikan kesempatan kepada klien biar senantiasa sanggup bekerjasama dengan keluarganya dan sanggup menjalankan ibadah sesuai dengan agama/kepercayaan sepanjang tidak bertentangan dengan Rumah Sakit
              8. Memberikan informasi yang adekuat perihal tindakan keperawatan kepada klien/keluarga sesuai batas kewenangannya
              9. Membuat dokumentasi asuhan keperawatan secara akurat dan berkesinambungan
              10. Meningkatkan mutu pelayanan keperawatan sesuai dengan standar profesi keperawatan dan kepuasaan kerja
              11. Mengikuti perkembangan IPTEK keperawatan secara terus menerus
              12. Melakukan pertolongan darurat sebagai kiprah perikemanusiaan sesuai batas kewenangannya
              13. Merahasiakan segala sesuatu yang diketahui perihal klien, kecuali diminta keterangan oleh pihak yang berwenang.
Nach itulah Materi Konsep Dasar Keperawatan, Semoga sanggup membantu anda sekalian dalam mendalami ilmu keperawatan.

Materi Pmr ( Palang Merah Cukup Umur )

4:20 PM Add Comment
Untuk kali ini kita akan mempelajari materi non formal, sebagai siswa anda sekalian juga wajib mengetahui materi formal, tapi alangkah baiknya juga anda sekalian juga mengetahui materi non formal. alasannya ialah banyak materi non formal yang bisa kita pelajari dan kita terapkan kelak ketika kita udah tidak sekolah. dan juga ada materi yang sebelumnya kita tidak mengetahuinya di dalam materi formal sekolah tapi di materi non formal kita sanggup mengetahuinya dan bisa menjadikan pengetahuan gres untuk kita dalam kehidupan bermasyarakat atau kehidupan sehari hari kita.

Kaprikornus kali ini kita akan mempelajari materi perihal materi non formal atau materi ekskul di sekolahan. alasannya ialah banyak kegiatan ekstrakulikuler yang berada disekolah - sekolah yang pastinya sanggup menambah wawasan kita dalam bidang masing masing seperti:


Nah kali ini kita akan mempelajari salah satu dari materi ektrakulikuler diatas. untuk kalian semua yang belum tau perihal PMR. Yang sudah tau marilah kita lebih memahami perihal materi materi pmr, Langsung aja kita pelajari disini aja.


Sejarah PMR

Palang Merah Indonesia (PMI) ialah sebuah organisasi perhimpunan nasional di Indonesia yang bergerak dalam bidang sosial kemanusiaan. PMI selalu berpegang teguh pada tujuh prinsip dasar Gerakan Internasional Palang Merah dan Bulan sabit merah yaitu kemanusiaan, kesamaan, kesukarelaan, kemandirian, kesatuan, kenetralan, dan kesemestaan.Sampai ketika ini PMI telah berada di 33 PMI Daerah (tingkat provinsi) dan sekitar 408 PMI Cabang (tingkat kota/kabupaten) di seluruh indonesiaPalang Merah Indonesia tidak berpihak pada golongan politik, ras, suku ataupun agama tertentu. Palang Merah Indonesia dalam pelaksanaannya juga tidak melaksanakan pembedaan tetapi mengutamakan objek korban yang paling membutuhkan pertolongan segera untuk keselamatan jiwanya.Sejarah Berdirinya Palang Merah di Indonesia sebetulnya sudah dimulai sebelum Perang Dunia II, tepatnya 12 Oktober 1873.Pemerintah Kolonial Belanda mendirikan Palang Merah di Indonesia dengan nama Nederlandsche Roode Kruis Afdeeling Indië (NERKAI) yang kemudian dibubarkan pada ketika pendudukan Jepang.
Perjuangan mendirikan Palang Merah Indonesia (PMI) diawali 1932. Kegiatan tersebut dipelopori dr RCL Senduk dan dr Bahder Djohan dengan menciptakan rancangan pembentukan PMI. Rancangan tersebut menerima dukungan luas terutama dari kalangan terpelajar Indonesia, dan diajukan ke dalam Sidang Konferensi Narkei pada 1940, akan tetapi ditolak mentah-mentah.

Rancangan tersebut disimpan menunggu ketika yang tepat. Seperti tak kenal mengalah pada ketika pendudukan Jepang mereka kembali mencoba untuk membentuk Badan Palang Merah Nasional, namun sekali lagi upaya itu menerima halangan dari Pemerintah Tentara Jepang sehingga untuk yang kedua kalinya rancangan tersebut kembali disimpan.

Proses pembentukan PMI dimulai 3 September 1945 ketika itu Presiden Soekarno memerintahkan Dr Boentaran (Menkes RI Kabinet I) semoga membentuk suatu tubuh Palang Merah Nasional.

Dibantu Panitia lima orang terdiri atas dr R Mochtar sebagai Ketua, dr Bahder Djohan sebagai Penulis dan tiga anggota panitia yaitu dr Djoehana Wiradikarta, dr Marzuki, dr Sitanala, mempersiapkan terbentuknya Perhimpunan Palang Merah Indonesia. Tepat sebulan sesudah kemerdekaan RI, 17 September 1945, PMI terbentuk. Peristiwa bersejarah tersebut hingga ketika ini dikenal sebagai Hari PMI.

Peran PMI ialah membantu pemerintah di bidang sosial kemanusiaan, terutama kiprah kepalangmerahan sebagaimana dipersyaratkan dalam ketentuan Konvensi-Konvensi Jenewa 1949 yang telah diratifikasi oleh pemerintah Republik Indonesia pada tahun 1958 melalui UU No 59.

Sebagai perhimpunan nasional yang sah, PMI bangun berdasarkan Keputusan Presiden No 25 tahun 1925 dan dikukuhkan kegiatannya sebagai satu-satunya organisasi perhimpunan nasional yang menjalankan kiprah kepalangmerahan melalui Keputusan Presiden No 246 tahun 1963.

SEJARAH PALANG MERAH INDONESIA

 Untuk kali ini kita akan mempelajari materi non formal Materi PMR ( Palang Merah Remaja )


Palang Merah Indonesia atau PMI sebagai Organisasi Nasional dan anggota Palang Merah Internasional, tergabung dalam ICRC atau Internasional Committee of The Red Cross dan League of Nation Red Cross Society atau Liga Palang Merah Sedunia Sejak tahun 1870 di jaman penjajahan Belanda dengan nanra The Nederlands Indische Rode Kruis atau Palang Merah Hindia Belanda.

Dan pada tahun 1939 seiring dengan timbulnya dorongan dan usaha kebangsaan, maka dua tokoh kebangsaan Dr. Rel senduk dan Dr. Bahder Djohan mengusulkan kepada pemerintah Hindia Belanda untuk membentuk Palang Merah Indonesia. Meskipun ditolak untuk kedua kalinya tahun 1940 gagasan mulia ini diajukan kembali dan pemerintah Hindia Belanda tetap
menolak.

Kemudian pada jaman pendudukan Jepang tahun 1942 hingga dengan 1945 telah dirintis kembali usaha pembentukan Palang Merah Indonesia tetapi belum juga sanggup terwujud.

Kemauan dan tekad yang membaja untuk membentuk Palang Merah Indonesia diteruskan alasannya ialah tuntutan yang mendesak guna menawarkan pertolongan kepada para korban pertempuran dalam usaha bangsa mengusir penjajah.  Dan barulah pada tanggal 3 September 1945 dikeluarkanlah perintah Presiden R.I kepadaMenteri Kesehatan dr. Boentaran Martoatmojo untuk menjajagi kemungkinan terbentuknya Palang Merah Indonesia  tanggal 5 September 1945 dibentuklah panitia persiapan yang terdiri dari 5 or-an ialah Dr.Mochtar, Dr. Bahder  Djohan, Dr. Sitanala, Dr. Djoehana. Panitia lima inilah bertugas membentuk Palang Merah Indonesia. Dan akhimya pada tanggal 17 September 1945 terbentuklah Perhimp unan Palang Merah Indonesia, bersamaan dengan dilantiknya Pengurus Besar PMI pertama adalah:

Ketua                                 : Drs. Moh Hatta
Wakil Ketua                       : Dr. R. Boentaran Martoatmodjo
Badan Penulis terdiri dari  : Dr. R. Mochtar, Dr. Bahder Djohan, Mr. Santoso
Bendahara                          : Mr. T.Saubari
Penasehat                           : K.H. Raden Adrian

Setelah pengesahan kedaulatan, catatan kejadian penting dalam Organisasi Palang Merah Indonesia ialah :

Dikeluarkan keputusan pemerintah No. 25 tahun 1950 tertanggal 16 Januari 1950 perihal pengesahan Palang Merah Indonesia sebagai satu-satunya organisasi Palang Merah di Indonesia.
Palang Merah Indonesia diakui oleh ICRC, INTERNATIONAL COMMITTEE OF THE RED CROSS dengan surat No. 392 tertanggal 15 Juni 1950.
Tanggal 16 Oktober 1950 Palang Merah Indonesia diterima sebagai Liga Palang Merah International LEAGUE OF NATION RED CROSS SOCIETY
Dengan telah ditandatangani KONVENSI GENEVA oleh utusan Pemerintah RI maupun perwakilan Palang Merah Indonesia, maka pemerintah RI telah tetapkan UU No. 59 tahun 1958. Dengan semua tindak dan langkahnya tidak terlepas dari identias Bangsa Indonesia yaitu Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.
Palang Merah Indonesia ialah organisasi yang netral dan independent, yang melaksanakan kegiatannya demi
kemanusiaan, kesukarelaan, kenetralan, kesamaan, kemandirian, kesatuan, dan kesemestaan.
Palang Merah Indonesia tidak melibatkan diri/berpihak pada golongan politik, ras, suku ataupun agama tertentu.
Dalam pelaksanaannya tidak melaksanakan pembedaan tetapi mengutamakan objek korban yang paling
membutuhkan pertolongan segera untuk keselamatan jiwanya.

Sejarah Lahirnya Gerakan

 Untuk kali ini kita akan mempelajari materi non formal Materi PMR ( Palang Merah Remaja )
Henry Dunant

Pada tahun 1895, Henry Dunant menyaksikan terjadinya peperangan di Solferino, dimana banyak korban perang yang tidak menerima pertolongan, sehingga timbul gagasan untuk menawarkan pertolongan kepada korban perang tersebut.Pengalaman itu dituangkan di dalam buku “Kenangan Solferino” (tahun 1862). Dalam buku tersebut diuraikan perihal kondisi yang ditimbulkan oleh peperangan dan mengusulkan semoga segera dibuat satuan tenaga sukarela yang bernaung di bawah suatu forum yang menawarkan pertolongan kepada orang-oang yang terluka di medan perang.

Buku “Kenangan Solferino” menarik perhatian 4 orang penduduk Jenewa yaitu :
– General Dufour
– Dr. Louis Appia
– Dr. Theodore Maunoir
– Gustave Moynier
 Untuk kali ini kita akan mempelajari materi non formal Materi PMR ( Palang Merah Remaja )

Empat (4) orang tersebut bersama Henry Dunant membentuk Komite Lima yang kemudian menjadi International Committee Of The Red Cross (ICRC) = Komite Internasional Palang Merah (KIPM).Pada tanggal 22 Agustus 1864 atas pakarsa ICRC, Pemerintah Swiss menyelenggarakan suatu konperensi yang diikuti oleh 12 Kepala Negara yang menandatangani perjanjian internasional yang dikenal dengan KONVENSI JENEWA I.Karena tanda Palang Merah diasumsikan mempunyai arti khusus maka pada tahun 1876 simbol Bulan Sabit Merah disahkan untuk digunakan oleh negara-negara Islam. Kedua Simbol tersbut mempunyai arti dan nilai yang sama.Dengan berakhirnya Perang Dunia I, banyak sekali epidemi penyakit berjangkit dan tragedi kelaparan menjalar.Melihat kenyataan itu, Henry P. Davidson warga negara Amerika, merasa perlu mendirikan suatu organisasi yang menangani problem bantan tersebut, yang ketika ini dikenal sebagai Federasi Internasional Palang Merah dan Bulan sabit Merah (didirikan tanggal 5 Mei 1919 dalam suatu konperensi Kesehatan Internasional di Cannes Perancis).

Kemanusiaan dan Kerelawanan Dalam banyak sekali kegiatan PMI komitmen terhadap kemanusiaan ibarat Strategi 2010 berisi perihal memperbaiki hajat hidup masyarakat rentan melalui promosi prinsip nilai kemanusiaan, penanggulangan bencana, kesiapsiagaan penanggulangan bencana, kesehatan dan perawatan di masyarakat, Deklarasi Hanoi (United for Action) berisi penanganan aktivitas pada isu-isu penanggulangan bencana, penanggulangan wabah penyakit, dewasa dan manula, kemitraan dengan pemerintah, organisasi dan administrasi kapasitas sumber daya serta humas dan promosi, maupun Plan of Action merupakan keputusan dari Konferensi Palang Merah dan Bulan Sabit Merah ke-27 di Jenewa Swiss tahun 1999.

Dalam konferensi tersebut Pemerintah Indonesia dan PMI sebagai penerima menyatakan ikrar di bidang kemanusiaan.
Hal ini sangat sejalan dengan kiprah pokok PMI ialah membantu pemerintah Indonesia di bidang sosial kemanusiaan terutama tugas-tugas kepalangmerahan yang meliputi: Kesiapsiagaan Bantuan dan Penanggulangan Bencana, Pelatihan Pertolongan Pertama untuk Sukarelawan, Pelayanan Kesehatan dan Kesejahteraan Masyarakat, Pelayanan Transfusi Darah. Kinerja PMI dibidang kemanusiaan dan kerelawanan mulai dari tahun 1945 hingga dengan ketika ini antara lain sebagai berikut:

1.    membantu ketika terjadi peperangan/konflik. Tugas kemanusiaan yang dilakukan PMI pada masa perang kemerdekaan RI, ketika pemberontakan RMS, kejadian Aru, ketika gerakan koreksi tempat melalui PRRI di Sumbar, ketika Trikora di Irian Jaya, Timor Timur dengan operasi kemanusiaan di Dilli, pengungsi di Pulau Galang.

2.    membantu korban tragedi alam. Ketika gempa terjadi di Pulau Bali (1976), membantu korban gempa bumi (6,8 skala Richter) di Kabupaten Jayawijaya, tragedi Gunung Galunggung (1982), Gempa di Liwa-Lampung Barat dan Tsunami di Banyuwangi (1994), gempa di Bengkulu dengan 7,9 skala Richter (1999), konflik horizontal di Poso-Sulteng dan kerusuhan di Maluku Utara (2001), korban gempa di Banggai di Sulawesi Tengah (2002) dengan 6,5 skala Richter, serta membantu korban banjir di Lhokseumawe Aceh, Gorontalo, Nias, Jawa Barat, Tsunami di Nangroe Aceh Darussalam, Pantai Pangandaran, dan gempa bumi di DI Yogyakarta dan sebagian Jawa Tengah. Semua dilakukan jajaran PMI demi rasa kemanusiaan dan semangat kesukarelawanan yang tulus membantu para korban dengan banyak sekali kegiatan mulai dari pertolongan dan evakuasi, pencarian, pelayanan kesehatan dan tim medis, penyediaan dapur umum, rumah sakit lapangan, pemberian paket sembako, pakaian pantas pakai dan sebagainya.

3.    transfusi darah dan kesehatan. Pada tahun 1978 PMI menawarkan penghargaan Pin Emas untuk pertama kalinya kepada donor darah sukarela sebanyak 75 kali. Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 1980 telah diatur perihal kiprah dan kiprah PMI dalam pelayanan transfusi darah. Keberadaan Unit Transfusi Darah PMI diakui telah banyak menawarkan manfaat dan pertolongan bagi para pasien/penderita sakit yang sangat membutuhkan darah. Ribuan atau bahkan jutaan orang terselamatkan jiwanya berkat pertolongan Unit Transfusi Darah PMI. Demikian pula halnya dengan pelayanan kesehatan, hampir di setiap PMI di banyak sekali tempat mempunyai poliklinik secara lengkap guna menawarkan pelayanan kepada masyarakat secara murah.

Basis Masyarakat Guna mengantisipasi banyak sekali kemungkinan yang terjadi pada saat-saat yang akan tiba ketika ini PMI tengah menyebarkan Program Community Based Disarter Preparedness (Kesiapsiagaan Bencana Berbasis Masyarakat). Program ini dimaksudkan mendorong pemberdayaan kapasitas masyarakat untuk menyiagakan dalam mencegah serta mengurangi dampak dan risiko tragedi yang terjadi di lingkungannya. Hal ini sangat penting alasannya ialah masyarakat sebagai pihak yang secara pribadi terkena dampak bila terjadi bencana.

Selain itu di Palang Merah Indonesia juga marak di selenggarakan training untuk Pertolongan Pertama Berbasis Masyarakat (Community Based First Aid/ CBFA)

Pada dasarnya seluruh gerakan kepalangmerahan haruslah berbasis masyarakat, ujung tombak gerakan kepalangmerahan ialah unsur unsur kesukarelaan ibarat Korps Sukarela atau KSR maupun Tenaga Sukarela atau TSR dan seluruh unsur ini selalu berbasis pada anggota masyarakat sesuai salah satu prinsip kepalangmerahan yaitu kesemestaan

7 Prinsip Dasar Gerakan Palang Merah Internasional dan Bulan Sabit Merah Internasional

  1. Kemanusiaan (humanity)
  2. Kesamaan (impartiality)
  3. Kenetralan (neutrality)
  4. Kemandirian (independence)
  5. Kesukarelaan (voluntary service)
  6. Kesatuan (unity)
  7. Kesemestaan (universality)


1. Kemanusiaan

Gerakan Palang Merah dan Bulan sabit Merah Internasional didirikan berdasarkan harapan memberi pertolongan tanpa membedakan korban yang terluka di dalam pertempuran, mencegah dan mengatasi penderitaan sesama manusia. Palang Merah menumbuhkan saling pengertian, persahabatan, kerjasama dan perdamaian kekal bagi sesama manusia.

2. Kesamaan

Gerakan ini tidak menciptakan perbedaan atas dasar kebangsaan, kesukuan, agama atau pandangan politik. Tujuannya semata-mata mengurangi penderitaan insan sesuai dengan kebutuhannya dan medahulukan keadaan yang paling parah.

3. Kenetralan

Agar senantiasa menerima kepercayaan dari semua pihak, gerakan ini tidak boleh memihak atau melibatkan diri dalam kontradiksi politik, kesukuan, agama atau ideologi.

4. Kemandirian

Gerakan ini bersifat mandiri. Perhimpunan nasional disamping membantu Pemerintahnya dalam bidang kemanusiaan, juga harus mentaati peraturan negaranya, harus selalu menjaga otonominya sehingga sanggup bertindak sejalan dengan prinsip-prinsip gerakan ini.

5. Kesukarelaan

Gerakan ini ialah gerakan pemberi proteksi sukarela, yang tidak didasari oleh harapan untuk mencari laba apa pun

6. Kesatuan

Di dalam suatu negara hanya ada satu perhimpunan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah yang terbuka untuk semua orang dan melaksanakan kiprah kemanusiaan di seluruh wilayah.

7. Kesemestaan

Gerakan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah Internasional ialah bersifat semesta. Setiap Perhimpunan Nasional mempunyai hak dan tanggung jawab yang sama dalam menolong sesama manusia.

Berdasarkan Statuta / Anggaran Dasar Gerakan, problem lambang pelindung yaitu Palang Merah dan Bulan Sabit Merah juga perlu menerima perhatian untuk dibahas dan disebarluaskan. Setiap orang perlu diberi pengertian bahwa orang dan benda / objek apapun yang menggunakan lambang pelindung tersebut tidak boleh diserang. Perlu juga ditekankan mengenai siapa saja yang berhak menggunakan lambang tersebut. Penghormatan terhadap lambang ini perlu ditegakkan pada masa tenang untuk menjamin pula penghormatannya pada ketika konflik bersenjata. Masalah lambang ini sangat penting alasannya ialah menyangkut keselamatan dan jaminan proteksi terhadap anggota Gerakan terutama pada masa konflik bersenjata. Apabila keamanannya terjamin, maka merekapun sanggup melaksanakan kegiatannya secara optimal.

Mars Palang Merah Indonesia

”    Mars PMI   “

Palang Merah Indonesia
Sumber kasih umat manusia
Warisan luhur, nusa dan bangsa
Wujud aktual pengayom Pancasila

Gerak juangnya keseluruh nusa
Mendarmakan bhakti bagi ampera
Tunaikan kiprah suci tujuan PMI
Di Persada Bunda Pertiwi

Untuk umat manusia
Di seluruh dunia
PMI menghantarkan jasa

Lagu yang pertama kali dikumandangkan tahun 1967 ini ialah ciptaan Mochtar H. S. yang ialah seorang tokoh PMI yang terkemuka waktu itu. Lagu ini juga menandai pembentukan Palang Merah Remaja (PMR) Kudus. PMR Kudus merupakan yang kedua di Indonesia sesudah Bandung. Bisa dibayangkan, PMI Kudus pada masa itu ialah cabang terkemuka di Indonesia.

”   Hymne PMI   “

Palang Merah Indonesia
Wujud Kepedulian Nyata
Nurani Yang Suci
Untuk Membantu Menolong Sesama

PMI
Siaga Setiap Waktu
Berbakti, Dan Mengabdi
Bagi Hidup Manusia
Agar Sehat Sejahtera Di Seluruh Dunia Mars Palang Merah Remaja Bhakti PMR

Palang Merah Remaja Indonesia warga Palang Merah sedunia
Berjuang berbakti penuh kasih sayang untuk rakyat semua
Bekerja dengan rela tulus tulus untuk yang tertimpa sengsara
Puji dan puja tidak dikejar… mengabdi tuk sesama…

Putra Putri Palang Merah Remaja Indonesia
Abdi rakyat sedunia luhur budinya
Putra Putri Palang Merah Remaja Indonesia
Abdi rakyat sedunia mulya citanya

Syarat-syarat menjadi anggota PMR 

 Untuk kali ini kita akan mempelajari materi non formal Materi PMR ( Palang Merah Remaja )

Berikut ini ialah syarat-syarat untuk menjadi anggota PMR.

  1. Warga Negara Indonesia.
  2. Berusia 7 tahun hingga dengan 21 tahun.
  3. Dapat membaca dan menulis.
  4. Atas kemauan sendiri, tanpa paksaan maupun tekanan dari orang lain, ingin menjadi anggota PMR.
  5. Mendapat persetujuan dari orang renta atau wali.
  6. Sebelum menjadi anggota penuh, bersedia mengikuti pendidikan dan training yang diharuskan.
  7. Bersedia melaksanakan kiprah kepalangmerahan selaku anggota PMR secara sukarela.


Hak keanggotaan 

Hak keanggotaan berakhir apabila:

  1. Meninggal dunia
  2. Merugikan nama dan kedudukan PMR khususnya, dan PMI umumnya.

PATUT


Isi dari PATUT:

P   : Penolong mengamankan diri sendiri sebelum bertindak
A  : Amankan Korban
T   : Tandai tempat kejadian
U  : Usahakan panggil bantuan
T : Tangani korban (dengan P3K) mulai dari luka yang paling serius atau membahayakan keselamatan korban

Tribakti Palang Merah Remaja

  1. Meningkatkan ketrampilan hidup sehat.
  2. Berkarya dan berbakti di masyarakat.
  3. Mempererat persahabatan nasional dan internasional

”   Siap Siaga   “

Kata Orang PMR Siap Siaga
Siap Siaga
Siap Siaga Tuk Menolong Sesama
Tak Peduli Siapa Yang Ditolong
Yang Ditolong
Miskin Kaya Semuanya Sama Saja

”   Happy Yee   “

Happy Yee Yee
Happy Yee
Aku Ingin PMR Wae
Siangan Kaprikornus Kenangan
Malam Kaprikornus Impian
Aku Ingin PMR Wae

CERITA KITA

Inilah dongeng Palang Merah Remaja
Siap berjuang tuk kemanusiaan
Inilah dongeng Palang Merah sejati
Tak takut mati karna punya nyali tinggi

Banyak orang bilang (Kami ini so’ putih)
Banyak orang bilang (kami ini so’ bersih)
Banyak orang bilang (kami so’ pemberani)
Meski itu kami tak perduli . . . . .

Ini kami PMR
Tim yang baik tak ancur
Suka minum bajigur
Pagi-pagi makan bubur
Salam sejahtera dari kami PMR
Semoga anda kian terhibur . . . . .

Faktor-Faktor yang dilatih dalam pendidikan ke-PMR-an:

  1. Fisik
  2. Mental
  3. Kreatifitas/Otak

Pertolongan Pertama 
Pelaksanaan pertolongan pertama

  1. Periksa kesadaran
  2. Periksa pernapasan
  3. Periksa apakah ada tanda-tanda pendarahan
  4. Periksa keadaan lokal atau keadaan sekitar

Peralatan P3K (Pertolongan Pertama pada Kecelakaan)

  1. Bahan membersihkan tangan. Contoh: Sabun, alkohol.
  2. Obat pencuci luka. Contoh: Rivanol, alkohol.
  3. Obat pengurang rasa sakit. Contoh: Parasetamol.
  4. Wewangian untuk menyadarkan korban. Contoh: Cologne, minyak angin.
  5. Pembalut gulung
  6. Mitela
  7. Kapas
  8. Plester
  9. Kain kassa/ kain steril
  10. Gunting
  11. Pinset

Pelajaran Membuat Tandu

  1. Menyiapkan alat-alat yang diperlukan: tambang, bambu untuk pegangan tangan
  2. Membuat simpul jangkar dan simpul pangkal
  3. Mengencangkan dan menguatkan tandu semoga bisa ditempati oleh korban


Pelajaran Evakuasi korban

  1. Bagaimana cara mengangkat korban ke tandu
  2. Cara mengangkat korban dengan 2 orang atau lebih.
  3. Cara mengangkat korban sendiri

Urutan apel

Urutan apel yang digunakan dalam PMR
  • Pemimpin apél memasuki lapangan apél.
  • Pemimpin apél menyiapkan barisan.
  • Pembina apél memasuki lapangan apél.
  • Penghormatan kepada Pembina apél dipimpin oleh pemimpin apél.
  • Laporan pemimpin apél kepada pembina apél bahwa apél akan segera dimulai.
  • Pembacaan 7 prinsip dasar Gerakan Palang Merah Internasional.
  • Pembacaan Tribakti Palang Merah Remaja.
  • Menyanyikan lagu Indonesia Raya dilanjutkan dengan Mars Palang Merah Indonesia.
  • Amanat Pembina, penerima diistirahatkan.
  • Peserta disiapkan.
  • Pembacaan doa.
  • Laporan pemimpin apél kepada Pembina apél bahwa apél telah selesai.
  • Penghormatan umum kepada Pembina apél.
  • Pembina apél diperkenankan meninggalkan lapangan apél.
  • Peserta dibubarkan.


Petugas apel

  1. Protokol
  2. Pemimpin upacara
  3. Petugas pembaca 7 prinsip dasar gerakan Palang Merah Internasional
  4. Petugas pembaca Tribakti Palang Merah Remaja
  5. Petugas dirijen dalam menyanyikan lagu ‘Indonesia Raya’ dan ‘Mars Palang Merah Indonesia’.


PEMBALUTAN

Membalut ialah tindakan medis untuk menyangga atau menahan penggalan tubuh tertentu semoga tidak bergeser atau berubah dari posisi yang dikehendaki.

TUJUAN

1. menahan sesuatu – contohnya bidai (spalk), kasa epilog luka, dan sebagainya – semoga tidak bergeser dari tempatnya

2. menahan pembengkakan (menghentikan pendarahan: pembalut tekanan)

3. menunjang penggalan tubuh yang cedera

4. menjaga semoga penggalan yang cedera tidak bergerak

5. menutup penggalan tubuh semoga tidak terkontaminasi.

MACAM

1. Mitella (pembalut segitiga)

2. Dasi (cravat)

3. Pita (pembalut gulung)

4. Plester (pembalut berperekat)

5. Pembalut lainnya

6. Kassa steril

1. MITELLA (pembalut segitiga)

Bahan pembalut dari kain yang berbentuk segitiga sama kaki dengan banyak sekali ukuran. Panjang kaki antara 50-100 cm
Pembalut ini biasa digunakan pada cedera di kepala, bahu, dada, siku, telapak tangan, pinggul, telapak kaki, dan untuk menggantung lengan.
dapat dilipat-lipat sejajar dengan alasnya dan menjadi pembalut bentuk dasi.

2. DASI (cravat)

Merupakan mitella yang dilipat-lipat dari salah satu ujungnya sehingga berbentuk pita dengan kedua ujung-ujungnya lancip dan lebarnya antara 5-10 cm.
Pembalut ini biasa dipergunakan untuk membalut mata, dahi (atau penggalan kepala yang lain), rahang, ketiak, lengan, siku, paha, lutut, betis, dan kaki yang terkilir.
Cara membalut:
Ø  Bebatkan pada tempat yang akan dibalut hingga kedua ujungnya sanggup diikatkan
Ø  Diusahakan semoga balutan tidak simpel kendor, dengan cara sebelum diikat arahnya saling menarik
Ø  Kedua ujung diikatkan secukupnya.

3. PITA (pembalut gulung)

Dapat terbuat dari kain katun, kain kasa, flanel atau materi elastis. Yang paling sering ialah kasa. Hal ini dikarenakan kasa simpel menyerap air dan darah, serta tidak simpel kendor.
Macam ukuran lebar pembalut dan penggunaannya:
Ø  2,5 cm : untuk jari-jari
Ø  5 cm : untuk leher dan pergelangan tangan
Ø  7,5 cm : untuk kepala, lengan atas, lengan bawah, betis dan kaki
Ø  10 cm : untuk paha dan sendi pinggul
Ø  10-15 cm : untuk dada, perut dan punggung.

Cara membalut anggota tubuh (tangan/kaki):
Ø  Sangga anggota tubuh yang cedera pada posisi tetap
Ø  Pastikan bahwa perban tergulung kencang
Ø  Balutan pita biasanya beberapa lapis, dimulai dari salah satu ujung yang diletakkan dari proksimal ke distal menutup sepanjang penggalan tubuh, yang akan dibalut dari distal ke proksimal (terakhir ujung yang dalam tadi diikat dengan ujung yang lain secukupnya). Atau bisa dimulai dari bawah luka (distal), kemudian balut lurus 2 kali.
Ø  Dibebatkan terus ke proksimal dengan bebatan saling menyilang dan tumpang tindih antara bebatan yang satu dengan bebatan berikutnya. Setiap balutan menutupi duapertiga penggalan sebelumnya.
Ø  Selesaikan dengan menciptakan balutan lurus, lipat ujung perban, kunci dengan peniti atau jepitan perban.

4. PLESTER (pembalut berperekat)

Pembalut ini untuk merekatkan epilog luka, untuk fiksasi pada sendi yang terkilir, untuk merekatkan pada kelainan patah tulang. Cara pembidaian pribadi dengan plester disebut strapping. Plester dibebatkan berlapis-lapis dari distal ke proksimal dan untuk membatasi gerakan perlu pita yang masing-masing ujungnya difiksasi dengan plester.
Untuk menutup luka yang sederhana sanggup digunakan plester yang sudah dilengkapi dengan kasa yang mengandung antiseptik (Tensoplast, Band-aid, Handyplast dsb).
Cara membalut luka terbuka dengan plester:
Ø  luka diberi antiseptik
Ø  tutup luka dengan kassa
Ø  baru letakkan pembalut plester.

5. PEMBALUT LAINNYA

Snelverband: pembalut pita yang sudah ditambah kasa epilog luka, dan steril. Baru dibuka ketika akan digunakan, sering digunakan untuk menutup luka-luka lebar.
Sofratulle: kasa steril yang sudah direndam dalam antibiotika. Digunakan untuk menutup luka-luka kecil.

6. Kassa steril

Kasa steril ialah potongan-potongan pembalut kasa yang sudah disterilkan dan dibungkus sepotong demi sepotong. Pembungkus tidak boleh dibuka sebelum digunakan.
Digunakan untuk menutup luka-luka kecil yang sudah didisinfeksi atau diobati (misalnya sudah ditutupi sofratulle), yaitu sebelum luka dibalut atau diplester.
Prosedur Pembalutan:

1. Perhatikan tempat atau letak penggalan tubuh yang akan dibalut dengan menjawab pertanyaan ini:

Bagian dari tubuh yang mana? (untuk memilih macam pembalut yang digunakan dan ukuran pembalut bila menggunakan pita)
Luka terbuka atau tidak? (untuk perawatan luka dan menghentikan perdarahan)
Bagaimana luas luka? (untuk memilih macam pembalut)
Perlu dibatasi gerak penggalan tubuh tertentu atau tidak? (untuk memilih perlu dibidai/tidak?)
2. Pilih jenis pembalut yang akan digunakan. Dapat satu atau kombinasi.
3. Sebelum dibalut, jikalau luka terbuka perlu diberi desinfektan atau dibalut dengan pembalut yang mengandung desinfektan. Jika terjadi disposisi/dislokasi perlu direposisi. Urut-urutan tindakan desinfeksi luka terbuka:

Letakkan sepotong kasa steril di tengah luka (tidak usah ditekan) untuk melindungi luka selama didesinfeksi.
Kulit sekitar luka dibasuh dengan air, disabun dan dicuci dengan zat antiseptik.
Kasa epilog luka diambil kembali. Luka disiram dengan air steril untuk membasuh bekuan darah dan kotoran yang terdapat di dalamnya.
Dengan menggunakan pinset steril (dibakar atau direbus lebih dahulu) kotoran yang tidak hanyut ketika disiram dibersihkan.
Tutup lukanya dengan sehelai sofratulle atau kasa steril biasa. Kemudian di atasnya dilapisi dengan kasa yang agak tebal dan lembut.
Kemudian berikan balutan yang menekan.
Apabila terjadi pendarahan, tindakan penghentian pendarahan sanggup dilakukan dengan cara:
Pembalut tekan, dipertahankan hingga pendarahan berhenti atau hingga pertolongan yang lebih mantap sanggup diberikan.

Penekanan dengan jari tangan di pangkal arteri yang terluka. Penekanan paling usang 15 menit.
Pengikatan dengan tourniquet.
Ø  Digunakan bila pendarahan sangat sulit tidak boleh dengan cara biasa.
Ø  Lokasi pemasangan: lima jari di bawah ketiak (untuk pendarahan di lengan) dan lima jari di bawah lipat paha (untuk pendarahan di kaki)
Ø  Cara: lilitkan torniket di tempat yang dikehendaki, sebelumnya dialasi dengan kain atau kasa untuk mencegah lecet di kulit yang terkena torniket. Untuk torniket kain, perlu dikencangkan dengan sepotong kayu. Tanda torniket sudah kencang ialah menghilangnya denyut nadi di distal dan kulit menjadi pucat kekuningan.
Ø  Setiap 10 menit torniket dikendorkan selama 30 detik, sementara luka ditekan dengan kasa steril.

Elevasi penggalan yang terluka
4. Tentukan posisi balutan dengan mempertimbangkan:

Dapat membatasi pergeseran/gerak penggalan tubuh yang memang perlu difiksasi
Sesedikit mungkin membatasi gerak bgaian tubuh yang lain
Usahakan posisi balutan paling nyaman untuk kegiatan pokok penderita.
Tidak mengganggu peredaran darah, contohnya balutan berlapis, yang paling bawah letaknya di sebelah distal.
Tidak simpel kendor atau lepas.

PEMBIDAIAN

Bidai atau spalk ialah alat dari kayu, anyaman kawat atau materi lain yang besar lengan berkuasa tetapi ringan yang digunakan untuk menahan atau menjaga semoga penggalan tulang yang patah tidak bergerak (immobilisasi), menawarkan istirahat dan mengurangi rasa sakit. Maksud dari immobilisasi adalah:

1. Ujung-ujung dari ruas patah tulang yang tajam tersebut tidak merusak jaringan lemah, otot-otot, pembuluh darah, maupun syaraf.
2. Tidak mengakibatkan rasa nyeri yang hebat, berarti pula mencegah terjadinya syok alasannya ialah rasa nyeri yang hebat.
3. Tidak menciptakan luka terbuka pada penggalan tulang yang patah sehingga mencegah terjadinya indfeksi tulang.
Pembidaian tidak hanya dilakkukan untuk immobilisasi tulang yang patah tetapi juga untuk sendi yang gres direposisi sesudah mengalami dislokasi. Sebuah sendi yang pernah mengalami dislokasi, ligamen-ligamennya biasanya menjadi kendor sehingga simpel mengalami dislokasi kembali, untuk itu sesudah diperbaiki sebaiknya untuk sementara waktu dilakukan pembidaian.

Prinsip pembidaian

1. Lakukan pembidaian di mana anggota tubuh mengalami cedera (korban jangan dipindahkan sebelum dibidai). Korban dengan dugaan fraktur lebih kondusif dipindahkan ke tandu medis darurat sesudah dilakukan tindakan perawatan luka, pembalutan dan pembidaian.

2. Lakukan juga pembidaian pada persangkaan patah tulang, jadi tidak perlu harus dipastikan dulu ada tidaknya patah tulang. Kemungkinan fraktur harus selalu dipikirkan setiap terjadi kecelakaan akhir benturan yang keras. Apabila ada keraguan, perlakukan sebagai fraktur.

Tanda dan tanda-tanda patah tulang:

Adanya tanda ruda paksa pada penggalan tubuh yang diduga terjadi patah tulang: pembengkakan, memar, rasa nyeri.
Nyeri sumbu: apabila diberi tekanan yang arahnya sejajar dengan tulang yang patah akan menawarkan nyeri yang mahir pada penderita.
Deformitas: apabila dibandingkan dengan penggalan tulang yang sehat terlihat tidak sama bentuk dan panjangnya.
Bagian tulang yang patah tidak sanggup berfungsi dengan baik atau sama sekali tidak sanggup digunakan lagi.
3. Melewati minimal dua sendi yang berbatasan.

Prosedur Pembidaian

1. Siapkan alat-alat selengkapnya
2. Apabila penderita mengalami fraktur terbuka, hentikan perdarahan dan rawat lukanya dengan cara menutup dengan kasa steril dan membalutnya.
3. Bidai harus meliputi dua sendi dari tulang yang patah. Sebelum dipasang, diukur dahulu pada sendi yang sehat.
4. Bidai dibalut dengan pembalut sebelum digunakan. Memakai alas di antara penggalan yang patah semoga tidak terjadi kerusakan jaringan kulit, pembuluh darah, atau pengutamaan syaraf, terutama pada penggalan tubuh yang ada tonjolan tulang.
5. Mengikat bidai dengan pengikat kain (dapat kain, baju, kopel, dll) dimulai dari sebelah atas dan bawah fraktur. Tiap ikatan tidak boleh menyilang sempurna di atas penggalan fraktur. Simpul ikatan jatuh pada permukaan bidainya, tidak pada permukaan anggota tubuh yang dibidai.
6. Ikatan jangan terlalu keras atau kendor. Ikatan harus cukup jumlahnya semoga secara keseluruhan penggalan tubuh yang patah tidak bergerak.
7. Kalau memungkinkan anggota gerak tersebut ditinggikan sesudah dibidai.
8. Sepatu, gelang, jam tangan dan alat pengikat perlu dilepas.

 Daftar Isi Kotak P3K berdasarkan bentuknya masing-masing:

a. Kotak Bentuk I berisi:

  • 10 gram kapas putih
  • 1 rol pembalut gulung lebar 2.5 cm
  • 1 rol pembalut gulung lebar 5 cm
  • 1 pembalut segitiga (mitella)
  • 1 pembalut cepat steril/snelverband
  • 10 buah kassa steril ukuran 5×5 cm
  • 1 rol plester lebar 2.5 cm
  • 10 buah plester cepat (mis. Tensoplast, dll.)
  • 1 buah gunting
  • 1 buku catatan
  • 1 buku pedoman P3K
  • 1 daftar isi kotak P3K

Obat-obatan untuk Kotak P3K Bentuk I

  • Obat pelawan rasa sakit (mis. Antalgin, Acetosai, dll)
  • Obat sakit perut (mis. Paverin, enterovioform, dll)
  • Norit
  • Obat anti alergi
  • Obat merah
  • Soda Kue
  • Obat tetes mata
  • Obat gosok

 b. Kotak Bentuk II berisi:

  • 50 gram kapas putih
  • 100 gram kapas gemuk
  • 3 rol pembalut gulung lebar 2.5 cm
  • 2 rol pembalut gulung lebar 5 cm
  • 2 rol pembalut gulung lebar 7.5 cm
  • 2 pembalut segitiga (mitella)
  • 2 pembalut cepat steril/snelverband
  • 10 buah kassa steril ukuran 5×5 cm
  • 10 buah kassa steril ukuran 7.5×7.5 cm
  • 1 rol plester lebar 1 cm
  • 20 buah plester lebar 1 cm
  • 20 buah plester cepat (mis. Tensoplast)
  • 1 bidal
  • 1 gunting pembalut
  • 1 buah sabun
  • 1 dos kertas pembersih (cleansing tissue)
  • 1 pinset
  • 1 lampu senter
  • 1 buku catatan
  • 1 buku pedoman P3K
  • 1 daftar isi kotak P3K

 Obat-obatan untuk Kotak P3K Bentuk II

  • Obat pelawan rasa sakit (mis. Antalgin, Acetosai, dll)
  • Obat sakit perut (mis. Paverin, enterovioform, dll)
  • Norit
  • Obat anti alergi
  • Soda Kue, garam dapur
  • Merculochrom
  • Obat tetes mata
  • Obat gosok
  • Salep anti histamimka
  • Salep sulfa atau S.A. powder
  • Boor zalif
  • Sofratulle
  • Larutan rivanol 1/10 500 cc
  • Amoniak cair 25% 100 cc

 c. Kotak Bentuk III berisi:

  • 300 gram kapas putih
  • 300 gram kapas gemuk
  • 6 rol pembalut gulung lebar 2.5 cm
  • 8 rol pembalut gulung lebar 5 cm
  • 2 rol pembalut gulung lebar 10 cm
  • 4 pembalut segitiga (mitella)
  • 2 pembalut cepat steril/snelverband
  • 20 buah kassa steril ukuran 5×5 cm
  • 40 buah kassa steril ukuran 7.5×7.5 cm
  • 1 rol plester lebar 1 cm
  • 20 buah plester cepat (mis. Tensoplast)
  • 1 rol plester lebar 2.5 cm
  • 3 bidal
  • 1 gunting pembalut
  • 1 buah sabun
  • 2 dos kertas pembersih (cleansing tissue)
  • 1 pinset
  • 1 lampu senter
  • 1 buku catatan
  • 1 buku pedoman P3K
  • 1 daftar isi kotak P3K

Obat-obatan untuk Kotak P3K Bentuk III sama dengan obat-obatan untuk Kotak P3K Bentuk II

 d. Kotak Khusus Dokter berisi:

  • 1 set alat-alat minor surgery lengkap
  • 1 botol Alcohol 70% isi 100 cc
  • 1 botol Aquadest isi 100 cc
  • 1 botol Betadine solution 60 cc
  • 1 botol Lysol isi 100 cc
  • 5 spnit injection diskosable 2 ½ cc
  • 5 spnit injection diskosable 5 cc
  • 20 lidi kapas
  • 2 flakon ATS injection isi 100 cc (disimpan ditempat sejuk)
  • 5 flakon P.S. 4:½ atau 4:1 atau PP injectie
  • Ampul morphine injectie
  • 3 ampul pethridine injectie
  • 2 flakon antihistamine injectie
  • 2 flakon anti panas injectie
  • 5 ampul adrenaline injectie
  • 1 flakon cartison injectie
  • 2 ampul cardizol injectie
  • 2 ampul aminophyline injectie
  • 10 sulfas atropine injectie 0.25 g
  • 10 sulfas atropine injectie 0.5 g
  • 5 ampul anti spascodik injectie
  • 2 handuk
  • 1 tempat cuci tangan
  • 1 mangkok bengkok
  • 1 buku catatan
  • 1 buku pedoman P3K
  • 1 daftar isi

MACAM-MACAM LUKA DAN PERTOLONGANNYA

Definisi
Kerusakan/ terputusnya kontinuitas dari suatu jaringan

Ø  Macam – macam Luka

  • Luka lecet
  • Luka memar
  • Luka iris
  • Luka robek
  • Luka tusuk
  • Luka tembak

Ø    Dasar Pertolongan
1. Menghentikan perdarahan
2. Mencegah terjadinya infeksi
3. Mencegah kerusakan jaringan lebih parah
4. Mempergunakan cara – cara pertolongan semoga penyembuhan lebih cepat

A. Luka Lecet

Terkelupasnya permukaan kulit akhir pergesekan dengan benda keras dan kasar
Tindakan
  • Bersihkan dengan air atau obat anti septic
  • Tutup luka
  • Bila luas beri Antibiotika, Anti Tetanus Serum (ATS) (Dokter/Rumah Sakit)

B. Luka Memar

Kerusakan jaringan di bawah kulit akhir pukulan benda tumpul, tanpa kerusakan yang berarti di permukaan kulit
Tanda : membiru dan membengkak

Tindakan

  • Kompres dengan air dingin/es
  • Bila nanah beri zalf lasonil/ trombopob

C. Luka Iris

Luka yang ditimbulkan oleh irisan benda yang bertepi tajam

Tanda :
  1. Bentuk luka memanjang
  2. Tepi luka merupakan garis lurus
  3. Jaringan sekitar luka tidak rusak


Tindakan
  • Bersihkan luka dengan air/ antiseptic
  • Pada luka iris yang pendek dan dangkal, tempelkan plaster (plaster kupu – kupu)

D. Luka Robek

Luka yang ditimbulkan oleh ukiran benda yang tidak terlalu tajam

Tanda
  1. Tepi luka tidak teratur
  2. Jaringa sekitar luka rusak
  3. Tindakan pada umumnya memerlukan jahitan (Dokter/Rumah Sakit)

Tindakan

  • Bersihkan sekitar luka dengan cairan anti septic
  • Bersihkan penggalan dalam luka dengan H2O2
  • Tutup luka dengan sufratule dan kasa steril, bila tidak ada cukup tutup dengan kain yang bersih
  • Balut yang agak menekan
  • Berikan antibiotik, ATS (Dokter/Rumah Sakit)

E. Luka Tusuk

Luka yang ditimbulkan oleh bacokan benda berujung runcing

Tanda

Mulut luka lebih sempit daripada dalamnya
Tepi luka ikut terdorong kedalam luka
Bahaya infeksi dan tetanus lebih besar
Letak luka harus diperhatikan, contohnya : di tempat jantung akan mengakibatkan kematian lebih cepat.

1.      Luka tusuk di Dada
Bila tidak mengenai jantung sanggup menembus hingga paru – paru sehingga mengakibatkan perdarahan dalam rongga paru – paru dan udara masuk ke dalam rongga paru – paru sehingga paru – paru pada sisi yang sakit akan mengempis

Tanda
  1. Kesakitan waktu bernafas
  2. Mendadak sesak
  3. Gerakan iga di sisi yang luka berkurang

Tindakan

  • Tutup luka dengan kasa steril yang dibasahi cairan steril
  • Balut luka dengan plester (kedap udara)
  • Bersihkan susukan pernafasan
  • Beri obat pengurang rasa sakit
  • Bawa ke RS terdekat

2.      Luka Tusuk di Perut
Tindakan

  • Bersihkan sekitar luka dengan antiseptic
  • Tutup luka dengan kasa steril yang agak tebal dan sudah dibasahi cairan steril
  • Balut yang menekan
  • Bila usus terlihat keluar jangan dimasukkan
  • Bila pisau belum tercabut biarkan saja segera bawa ke RS

3.      Luka Tusuk di Anggota Badan
Tindakan

  • Bersihkan luka dengan antiseptic
  • Bila luka dalam bersihkan dengan H2O2\
  • Tutup luka dengan kasa steril
  • Balut yang menekanBeri antibiotik,
  • ATS (Dokter/Rumah Sakit)

F. Luka Tembak

Bentuknya antara luka tusuk dengan luka robek. Pada luka tembak ini harus dicari tempat keluarnya peluru. Bila tidak ditemukan kemungkinan peluru tertinggal di dalam tubuh.
Pada pinggir luka tempat peluru masuk sering terdapat jeluga biru panasnya peluru

Tindakan

  • Bersihkan sekitar luka
  • Tutup luka
  • Kirim RS

Pada setiap luka yang sudah terinfeksi akan timbul peradangan yang disusul pernanahan.

Tindakan pada luka infeksi

  • Bersihkan luka dan sekitarnya dengan antiseptic
  • Keluarkan kotoran/ pus dalam luka dengan cara menekan dari pinggir luka kearah tengah
  • Setelah kotoran terkumpul dibagian tengah luka bersihkan tempat luka dengan antiseptik dan H202
  • Berikan kompres Revanol 5x sehari
  • Bila luka sudah agak mengering berikan zalf antibiotic
  • Sebaiknya diberikan obat : anti biotik dan pengurang rasa sakit

Indikasi suntikan ATS (Anti Tetanus Serum)

  • Luka – luka yang luas
  • Luka di leher dan muka
  • Luka tusuk dan gigitan hewan yang cukup dalam
  • Ada tanda-tanda – tanda-tanda terkena tetanus
  • Luka yang terlambat menerima perawatan
  • Luka tembak yang sudah disertai jaringan mati.

Simpul Tali Temali

Dalam Pramuka kita mengenal dengan istilah Tali Temali, nah di Saka Bakti Husada juga kita akan lebih memperdalam perihal bagaimana cara menciptakan dan menggunakan Tali Temali.

Dalam tali temali kita sering mencampuradukkan antara tali, simpul dan ikatan. Hal ini bekerjsama berbeda sama sekali. Tali ialah bendanya. Simpul ialah hubungan antara tali dengan tali. Ikatan ialah hubungan antara tali dengan benda lainnya, misal kayu, balok, bambu dan sebagainya.

1.Simpul ujung tali

Gunanya semoga tali pintalan pada ujung tali tidak simpel lepas.
2.Simpul mati

Gunanya untuk menyambung 2 utas tali yang sama besar dan tidak licin.
3.Simpul anyam

Gunanya untuk menyambung 2 utas tali yang tidak sama besarnya dan dalam keadaan kering.
3.Simpul anyam

Gunanya untuk menyambung 2 utas tali yang tidak sama besarnya dan dalam keadaan kering.
5.Simpul erat

Gunanya untuk memendekkan tali tanpa pemotongan.
6.Simpul kembar

Gunanya untuk menyambung 2 utas tali yang sama besarnya dan dalam keadaan licin.
7.Simpul kursi

Gunanya untuk mengangkat atau menurunkan benda atau orang pingsan .
8.Simpul penarik

Gunanya untuk menarik benda yang cukup besar.
9.Simpul laso

Gunanya untuk menjerat binatang.
10.Simpul pangkal

Gunanya untuk permulaan ikatan untuk mengikat tali pada tiang/kayu.
11.Simpul erat/tambat

Gunanya Untuk memulai ikatan dan digunakan untuk menyeret balok.
12.Simpul tiang

Gunanya Untuk mengikat benda hidup/leher hewan semoga yang diikat tidak terjerat, dan untuk menambatkan tali pengikat hewan pada pohon semoga hewan itu sanggup bergerak bebas.
13.Simpul tarik

Gunanya Untuk turun kejurang atau dari atas pohon.
14.Simpul tiang berganda
Gunanya Untuk mengangkat atau menurunkan benda/manusia.
15.Simpul gulung

Gunanya Untuk diikatkan pada tali penarik semoga orang lain sanggup membantu menarik.
16.Simpul nelayan/pemukat

Gunanya Untuk menarik balok kayu yang besar.
17.Simpul tangga tali

Gunanya Untuk menciptakan tangga tali.
18.Simpul jangkar

Gunanya Untuk menciptakan tanduk darurat atau mengikat ember/timba.
19.Simpul hidup

Gunanya Untuk mengikat tiang.
20.Simpul tetap

Gunanya Untuk mengikat tali pada tiang lebih lama.
21.Simpul hidup berganda

Gunanya Untuk mengikat tiang atau mengangkat balok.
22.Simpul guling

Gunanya Untuk mengikat tiang.i
Macam Ikatan dan Kegunaannya

1.Ikatan pangkal
Gunanya untuk mengikatkan tali pada kayu atau tiang, akan tetapi ikatan
pangkal ini sanggup juga digunakan untuk memulai suatu ikatan.

2.Ikatan tiang
Gunanya untuk mengikat sesuatu sehingga yang diikat masih sanggup bergerak
leluasa contohnya untuk mengikat leher hewan supaya tidak tercekik.

3.Ikatan jangkar
Gunanya untuk mengikat jangkar atau benda lainnya yang berbentuk ring.

4.Ikatan tambat
Gunanya untuk menambatkan tali pada sesuatu tiang/kayu dengan erat,
akan tetapi simpel untuk melepaskannya kembali. Ikatan tambat ini
juga dipergunakan untuk menyeret balik dan bahkan ada juga
dipergunakan untuk memulai suatu ikatan.

5.Ikatan tarik
Gunanya untuk menambatkan tali pengikat hewan pada suatu tiang, kemudian simpel untuk membukanya kembali. Dapat juga untuk turun ke jurang atau pohon.

6.Ikatan turki
Gunanya untuk mengikat sapu lidi setangan leher

7.Ikatan palang
8.Ikatan canggah
9.Ikatan silang
10.Ikatan khaki tiga

Untuk gambar macam-macam ikatan sanggup dilihat di sini : Kumpulan Simpul Dan Ikatan

PMI KINI
 Untuk kali ini kita akan mempelajari materi non formal Materi PMR ( Palang Merah Remaja )


Dalam rangka menghadapi perkembangan masyarakat Indonesia di masa depan yang semakin global dalam suasana yang semakin demokratis maka PMI harus mempersiapkan diri sebaik-baiknya sebagai stakeholder untuk ikut mengambil kiprah aktif di dalamnya.
Karena itu, PMI telah tetapkan misi dan visi dengan tetap berpegang teguh pada prinsip-prinsip
kepalangmerahan dan digariskan di dalam garis-Garis Kebijakan PMI 2000 – 2004 :

A. Visi

PMI diakui secara luas sebagai organisasi kemanusiaan yang bisa menyediakan pelayanan
kepalangmerahan yang efektif dan sempurna waktu, terutama kepada mereka yang paling membutuhkan, dalam
semangat kenetralan dan kemandirian.

B. Misi

1. Menyebarluaskan dan menyebarkan aplikasi prinsip dasar Gerakan Palang Merah dan Bulan sabit
Merah serta Hukum perikemanusiaan Internasional (HPI) dalam masyarakat Indonesia.
2.Melaksanakan pelayanan kepalangmerahan yang bermutu dan sempurna waktu, mencakup:

Bantuan kemanusiaan dalam keadaan darurat
Pelayanan sosial dan kesehatan masyarakat
Usaha Kesehatan Transfusi Darah
3. Pembinaan Generasi Muda dalam kepalangmerahan, kesehatan dan kesejahteraan.
4. Melakukan konsolidasi organisasi, pembinaan potensi dan peningkatan potensi sumber daya insan dan sumber dana untuk menuju PMI yang efektif dan efiesien.


Demikianlah ulasan mengenai perihal Materi PMR. Semoga ulasan ini sanggup dipahami dan dimengerti oleh pembaca semua.