Showing posts with label Geografi. Show all posts
Showing posts with label Geografi. Show all posts

Lapisan-Lapisan Bumi

3:20 PM Add Comment
Bumi telah terbentuk sekitar 4,6 milyar tahun yang lalu. Bumi merupakan planet dengan urutan ketiga dari sembilan planet yang erat dengan matahari. Jarak bumi dengan matahari sekitar 150 juta km, berbentuk lingkaran dengan radius ± 6.370 km. Bumi merupakan satu-satunya planet yang sanggup dihuni oleh banyak sekali jenis mahluk hidup. Bumi mempunyai 2 macam lapisan, yaitu lapisan internal (dalam) dan lapisan eksternal (luar). Lapisan dalam merupakan lapisan pembentuk bumi. Sedangkan lapisan luar merupakan lapisan yang melindungi bumi dari meteor atau benda-benda luar angkasa lainnya.

Secara struktur lapisan dalam bumi, dibagi menjadi tiga bagian, yaitu sebagai berikut:

1. Kerak bumi (crush) merupakan kulit bumi kepingan luar (permukaan bumi). Tebal lapisan kerak bumi mencapai 70 km dan merupakan lapisan batuan yang terdiri dari batu-batuan basa dan masam. Lapisan ini menjadi tempat tinggal bagi seluruh mahluk hidup. Suhu di kepingan bawah kerak bumi mencapai 1.100 oC. Lapisan kerak bumi dan kepingan di bawahnya hingga kedalaman 100 km dinamakan litosfer.

2. Selimut atau selubung (mantle) merupakan lapisan yang terletak di bawah lapisan kerak bumi. Tebal selimut bumi mencapai 2.900 km dan merupakan lapisan batuan padat. Suhu di kepingan bawah selimut bumi mencapai 3.000 oC.

3. Inti bumi (core), yang terdiri dari material cair, dengan penyusun utama logam besi (90%), nikel (8%), dan lain-lain yang terdapat pada kedalaman 2900 – 5200 km. Lapisan ini dibedakan menjadi lapisan inti luar dan lapisan inti dalam. Lapisan inti luar tebalnya sekitar 2.000 km dan terdiri atas besi cair yang suhunya mencapai 2.200 oC. inti dalam merupakan pusat bumi berbentuk bola dengan diameter sekitar 2.700 km. Inti dalam ini terdiri dari nikel dan besi yang suhunya mencapai 4.500 oC.

Namun sesungguhnya pada dikala ini ditemukan sebuah fakta bahwa bumi tidak lagi hanya mempunyai 3 lapisan, tapi 7 lapisan. Pengukuran-Pengukuran dan percobaan-percobaan terbaru mengatakan bahwa artikel yang berisi nukleus dari bumi itu berada di bawah tekanan yang sangat tinggi, tiga juta kali lebih dari permukaan bumi. Di bawah tekanan ibarat itu, zat berubah bentuk menjadi solid, dan hal ini pada waktunya menciptakan inti bumi itu sangat solid. Inti bumi ini dikelilingi suatu lapisan zat cair dengan suhu yang sangat tinggi. Ini berarti bahwa ada dua lapisan di dalam inti bumi, bukan satu. Satu lapisan di dalam pusat yang dikelilingi lapisan zat cair. Hal itu diketahui sehabis alat-alat pengukur dikembangkan dan memberi para ilmuwan suatu perbedaan yang terperinci antar lapisan-lapisan bumi kepingan dalam. Jika kita turun ke bawah bumi yang keras, kita akan menemukan lapisan batu-batu yang sangat panas, yaitu kerikil yang berfungsi untuk membungkus. Setelah itu ada tiga lapisan terpisah, di mana masing-masing itu berbeda kepadatan, tekanan dan suhu yang berbeda-beda.

 Bumi merupakan planet dengan urutan ketiga dari sembilan planet yang erat dengan matahar Lapisan-Lapisan Bumi

Gambar atas mengatakan tujuh lapisan bumi, memberitahukan bahwa kerak bumi yaitu lapisan sangat tipis yang disusul dengan mantel dengan berbeda-beda ketebalannya, kemudian disusul lapisan-lapsan yang terdiri zat cair, dan diakhiri dengan yang lapisan ketujuh, yaitu nukleus padat. Para ilmuwan juga menemukan bahwa atom terdiri dari tujuh lapisan atau tingkatan, dan hal ini menandakan keseragaman ciptaan, di mana bumi mempunyai tujuh lapisan dan atom-atom mempunyai tujuh lapisan juga. Tujuh lapisan bumi itu sangat berbeda-beda dari segi struktur, kepadatan, suhu dan bahannya.

Lapisan luar bumi secara keseluruhan sering disebut atmosfer. Atmosfer yaitu lapisan gas yang melingkupi sebuah planet, termasuk bumi, dari permukaan planet tersebut hingga jauh di luar angkasa. Di bumi, atmosfer terdapat dari ketinggian 0 km di atas permukaan tanah, hingga dengan sekitar 560 km dari atas permukaan bumi. Atmosfer tersusun atas beberapa lapisan, yang dinamai berdasarkan fenomena yang terjadi di lapisan tersebut. Transisi antara lapisan yang satu dengan yang lain berlangsung bertahap. Studi wacana atmosfer mula-mula dilakukan untuk memecahkan problem cuaca, fenomena pembiasan sinar matahari dikala terbit dan tenggelam, serta kelap-kelipnya bintang. Dengan peralatan yang sensitif yang dipasang di wahana luar angkasa, kita sanggup memperoleh pemahaman yang lebih baik wacana atmosfer berikut fenomena-fenomena yang terjadi di dalamnya. Atmosfer Bumi terdiri atas nitrogen (78.17%) dan oksigen (20.97%), dengan sedikit argon (0.9%), karbondioksida (variabel, tetapi sekitar 0.0357%), uap air, dan gas lainnya. Atmosfer melindungi kehidupan di bumi dengan menyerap radiasi sinar ultraviolet dari matahari dan mengurangi suhu ekstrem di antara siang dan malam. 75% dari atmosfer ada dalam 11 km dari permukaan planet.

Troposfer

Lapisan ini berada pada level yang terrendah, adonan gasnya paling ideal untuk menopang kehidupan di bumi. Dalam lapisan ini kehidupan terlindung dari sengatan radiasi yang dipancarkan oleh benda-benda langit lain. Dibandingkan dengan lapisan atmosfer yang lain, lapisan ini yaitu yang paling tipis (kurang lebih 15 kilometer dari permukaan tanah). Dalam lapisan ini, hampir semua jenis cuaca, perubahan suhu yang mendadak, angin tekanan dan kelembaban yang kita rasakan sehari-hari berlangsung. Ketinggian yang paling rendah yaitu kepingan yang paling hangat dari troposfer, alasannya permukaan bumi menyerap radiasi panas dari matahari dan menyalurkan panasnya ke udara. Biasanya, bila ketinggian bertambah, suhu udara akan berkurang secara tunak (steady), dari sekitar 17℃ hingga -52℃. Pada permukaan bumi yang tertentu, ibarat tempat pegunungan dan dataran tinggi sanggup menimbulkan anomali terhadap gradien suhu tersebut.
Lapisan ini dianggap sebagai kepingan atmosfer yang paling penting, alasannya bekerjasama eksklusif dengan permukaan bumi yang merupakan habitat dari banyak sekali jenis mahluk hidup termasuk manusia, serta alasannya sebagain besar dinamika iklim berlangsung pada lapisan troposfer. Susunan kimia udara troposfer terdiri dari 78,03% nitrogrn, 20,99 oksigen, 0,93% argon, 0,03% asam arang, 0,0015% nenon, 0,00015% helium, 0,0001% kripton, 0,00005% hidrogen, serta 0,000005% xenon. Di dalam troposfer terdapat tiga jenis awan, yaitu awan rendah (cumulus), yang tingginya antara 0 – 2 km; awan pertengahan (alto cumulus lenticularis), tingginya antara 2 – 6 km; serta awan tinggi (cirrus) yang tingginya antara 6 – 12 km.


Troposfer terbagi lagi ke dalam empat lapisan, yaitu :

1. Lapisan Udara Dasar

Tebal lapisan udara ini yaitu 1 – 2 meter di atas permukaan bumi. Keadaan di dalam lapisan udara ini tergantung dari keadaan fisik muka bumi, dari jenis tanaman, ketinggian dari permukaan bahari dan lainnya. Keadaan udara dalam lapisan inilah yang disebut sebagai iklim mikro, yang memperngaruhi kehidupan flora dan juga jasad hidup di dalam tanah.

2. Lapisan Udara Bawah

Lapisan udara ini dinamakan juga lapisan-batasan planiter (planetaire grenslag, planetary boundary layer). Tebal lapisan ini 1 – 2 km. Di sini berlangsung banyak sekali perubahan suhu udara dan juga memilih iklim.

3. Lapisan Udara Adveksi (Gerakan Mendatar)

Lapisan ini disebut juga lapisan udara konveksi atau lapisan awan, yang tebalnya 2 – 8 km. Di dalam lapisan udara ini gerakan mendatar lebih besar daripada gerakan tegak. Hawa panas dan hambar yang beradu di sini menimbulkan kondisi suhu yang berubah-ubah.

4. Lapisan Udara Tropopouse

Merupakan lapisan transisi antara lapisan troposfer dan stratosfer terletak antara 8 – 12 km di atas permukaan bahari (dpl). Pada lapisan ini terdapat derajat panas yang paling rendah, yakni antara – 46 o C hingga – 80o C pada ekspresi dominan panas dan antara – 57 o C hingga – 83 o C pada ekspresi dominan dingin. Suhu yang sangat rendah pada tropopouse inilah yang menimbulkan uap air tidak sanggup menembus ke lapisan atmosfer yang lebih tinggi, alasannya uap air segera mengalami kondensasi sebelum mancapai tropopouse dan kemudian jatuh kembali ke bumi dalam bentuk cair (hujan) dan padat (salju, hujan es).

Stratosfer

Perubahan secara sedikit demi sedikit dari troposfer ke stratosfer dimulai dari ketinggian sekitar 11 km. Suhu di lapisan stratosfer yang paling bawah relatif stabil dan sangat hambar yaitu – 70oF atau sekitar – 57oC. Pada lapisan ini angin yang sangat kencang terjadi dengan contoh aliran yang tertentu.Disini juga tempat terbangnya pesawat. Awan tinggi jenis cirrus kadang kala terjadi di lapisan paling bawah, namun tidak ada contoh cuaca yang signifikan yang terjadi pada lapisan ini. Dari kepingan tengah stratosfer keatas, contoh suhunya berkembang menjadi semakin bertambah semakin naik, alasannya bertambahnya lapisan dengan konsentrasi ozon yang bertambah. Lapisan ozon ini menyerap radiasi sinar ultra ungu. Suhu pada lapisan ini sanggup mencapai sekitar 18oC pada ketinggian sekitar 40 km. Lapisan stratopause memisahkan stratosfer dengan lapisan berikutnya. Lapisan stratosfer dibagi dalam tiga kepingan yaitu:
  1. Lapisan udara isoterm; terletak antara 12 – 35 km dpl, dengan suhu udara – 50o C hingga -55o C.
  2. Lapisan udara panas; terletak antara 35 – 50 km dpl, dengan suhu – 50o C hingga + 50o C.
  3. Lapisan udara adonan teratas; terletak antara 50 – 80 km dpl, dengan suhu antara +50o C hingga -70o C. alasannya efek sinar ultraviolet, pada ketinggian 30 km oksigen diubah menjadi ozon, hingga kadarnya akan meningkat dari 5 menjadi 9 x 10-2 cc di dalam 1 m3.

Mesosfer

Kurang lebih 25 mil atau 40km diatas permukaan bumi terdapat lapisan transisi menuju lapisan mesosfer. Pada lapisan ini, suhu kembali turun ketika ketinggian bertambah, hingga menjadi sekitar – 143oC di erat kepingan atas dari lapisan ini, yaitu kurang lebih 81 km diatas permukaan bumi. Suhu serendah ini memungkinkan terjadi awan noctilucent, yang terbentuk dari kristal es. Daerah transisi antara lapisan mesosfer dan termosfer disebut mesopouse dengan suhu terendah – 110o C.

Termosfer

Transisi dari mesosfer ke termosfer dimulai pada ketinggian sekitar 81 km. Dinamai termosfer alasannya terjadi kenaikan temperatur yang cukup tinggi pada lapisan ini yaitu sekitar 1982oC. Perubahan ini terjadi alasannya serapan radiasi sinar ultra ungu. Radiasi ini menimbulkan reaksi kimia sehingga membentuk lapisan bermuatan listrik yang dikenal dengan nama ionosfer, yang sanggup memantulkan gelombang radio. Sebelum munculnya masa satelit, lapisan ini berkhasiat untuk membantu memancarkan gelombang radio jarak jauh. Molekul oksigen akan terpecah menjadi oksegen atomik di sini. Proses pemecahan molekul oksigen dan gas-gas atmosfer lainnya akan menghasilkan panas, yang akan menimbulkan meningkatnya suhu pada lapisan ini. Suhu pada lapisan ini akan meningkat dengan meningkaknya ketinggian. 

Ionosfer dibagi menjadi tiga lapisan lagi, yaitu:

a. Lapisan Udara E
Terletak antara 80 – 150 km dengan rata-rata 100 km dpl. Lapisan ini tempat terjadinya proses ionisasi tertinggi. Lapisan ini dinamakan juga lapisan udara KENNELY dan HEAVISIDE dan mempunyai sifat memantulkan gelombang radio. Suu udara di sini berkisar – 70o C hingga +50o C .

b. Lapisan udara F
Terletak antara 150 – 400 km. Lapisan ini dinamakan juga lapisan udara APPLETON.

c. Lapisan udara atom
Pada lapisan ini, benda-benda berada dalam lbentuk atom. Letaknya lapisan ini antara 400 – 800 km. Lapisan ini mendapatkan panas eksklusif dari matahari, dan diduga suhunya mencapai 1200o C
Fenomena aurora yang dikenal juga dengan cahaya utara atau cahaya selatan terjadi di lapisan ini.

Eksosfer

Merupakan lapisan atmosfer yang paling tinggi. Pada lapisan ini, kandungan gas-gas atmosfer sangat rendah. Batas antara ekosfer (yang intinya juga yaitu batas atmosfer) dengan angkasa luar tidak jelas. Daerah yang masih termasuk ekosfer yaitu tempat yang masih sanggup dipengaruhi daya gravitasi bumi. Garis imajiner yang membatasi ekosfer dengan angkasa luar disebut magnetopause. Adanya refleksi cahaya matahari yang dipantulkan oleh partikel bubuk meteoritik. Cahaya matahari yang dipantulkan tersebut juga disebut sebagai cahaya Zodiakal.

Demikian materi wacana  Lapisan - Lapisan Bumi. Semoga menambah wawan anda dalam pelajaran IPS Khususnya Mapel Geografi..jangan lupa kunjungi artikel artikel yang lain ya...

Gejala Geografi Pada Atmosfer, Hidrosfer, Litosfer, Biosfer, Dan Antroposfer

7:20 AM Add Comment
Gejala pada geografi- Gejala ini yang sering ditemui dalam kehidupan sehari-hari tercermin dalam banyak sekali hal, antara lain dalam persebaran pemukiman, persebaran pusat-pusat kegiatan penduduk (sekolah, rumah, pasar, dan industri), insiden alam, menyerupai banjir, gempa, letusan gunungapi, cuaca,
atau iklim.

Untuk itu, saya akan membahas sedikit materi Geografi mengenai tentang Gejala Geografi Pada Atmosfer.Berikut ini pembahasan selanjutnya dibawah ini.

Gejala Geografi Pada Atmosfer

yang sering ditemui dalam kehidupan sehari Gejala Geografi Pada Atmosfer, Hidrosfer, Litosfer, Biosfer, dan Antroposfer

Peristiwa-peristiwa alam di dalam geosfer banyak yang berkaitan dengan kehidupan insan baik yang terjadi secara pribadi maupun tidak pribadi :
1. Gejala pada Atmosfer
Gejala-gejala yang terjadi di atmosfer, menyerupai terjadinya perubahan ekspresi dominan sanggup besar lengan berkuasa antara lain sebagai berikut.
a. Pada ekspresi dominan penghujan para petani mulai menggarap lahannya (sawah tadah hujan).

b. Jenis pakaian yang dipakai penduduk, menyerupai di kawasan beriklim dingin, pakaian yang dipakai pada umumnya tebal-tebal.Orang-orang yang tinggal di kawasan kutub dengan kondisi iklim yang dingin, memakai pakaian tebal-tebal sebagai bentuk adaptasi.

2. Gejala pada Hidrosfer
Gejala-gejala yang terjadi di hidrosfer antara lain sebagai berikut :

a. Besar kecilnya air limpasan di permukaan bumi, selain dipengaruhi oleh besar dan lamanya hujan juga dipengaruhi penggunaan lahan oleh manusia. Apabila perbukitan yang seharusnya dijadikan tempat perembesan air (catchment area) dijadikan areal permukiman atau kegiatan pertanian yang tidak memperhatikan pelestariannya maka air limpasan (run off) jumlahnya semakin banyak.

b. Besar kecilnya cadangan air tanah dipengaruhi oleh banyak sedikitnya perembesan air ke dalam tanah. Hal tersebut dipengaruhi oleh jenis batuan dan vegetasi epilog lahan. Cadangan air tanah juga dipengaruhi cara insan yang memanfaatkannya. Jika insan memanfaatkan air tanah
secara boros, ketersediaannyapun akan cepat habis.

3. Gejala pada Litosfer
Gejala-gejala yang terjadi di litosfer antara lain sebagai berikut :

a. Untuk mengurangi tingkat erosi, pemanfaatan lahan di kawasan miring dilakukan dengan menciptakan sengkedan (terrasering).

b. Untuk menghindari penurunan daya dukung lahan, maka pemanfaatan lahan harus memerhatikan daya dukung atau kemampuan lahannya.

4. Gejala pada Biosfer
Keragaman tanaman dan fauna menimbulkan keanekaragaman konsumsi materi pangan. Pada kawasan penghasil padi lebih banyak didominasi penduduk mengonsumsi nasi dari beras. Pada kawasan penghasil gandum memakai terigu sebagai materi untuk menciptakan makanannya. Keberadaan binatang juga demikian contohnya orang Thailand memakai gajah untuk mem bantu pekerjaannya, sedangkan di Indonesia penduduk meman faatkan kuda, sapi, dan kerbau. Hal ini disebabkan lantaran faktor keberadaan dari hewan-hewan tersebut. (Geografi Hartono)

5. Gejala pada Antroposfer
Manusia di permukaan bumi bermacam-macam budbahasa dan budayanya, hal ini menimbulkan interaksi penduduk yang berbeda. Penduduk mempunyai keahlian yang berbeda-beda sehingga terjadi adanya saling membutuhkan. Penduduk juga menempati tempat yang berbeda-beda kondisi alam dan sumber dayanya. Hal ini menimbulkan kehidupanpun bermacam-macam lantaran dalam pemanfaatan alam yang berbeda perlu pengolahan dan alat yang berbeda pula.

Begitulas sekilas pembahas yang sanggup saya paparkan dalam postingan "Gejala Geografi Pada Atmosfer", agar dengan adanya anda membaca, sanggup membantu anda dalam menyelasikan kiprah dalam pembelajaran. Terimakasih

Macam-Macam Batuan (Batuan Beku, Batuan Sedimen, Malihan)

11:20 PM Add Comment
Macam-macam Batuan (Batuan Beku, Batuan Sedimen, Malihan) - Batuan merupakan benda alam yang menjadi penyusun utama di muka bumi. Pada umumnya batuan merupakan adonan mineral yang bergabung secara fisik antara satu mineral dengan mineral lainnya.

Beberapa batuan hanya tersusun atas beberapa mineral saja dan mineral lainnya dibuat oleh gabungan mineral yang berasal dari materi organik dan bahan-bahan vulkanik.Secara umum, komposisi batuan di permukaan bumi yang didasarkan atas jenis batuannya didominasi oleh jenis batuan sedimen yang menutupi hampir 66% permukaan bumi, sedangkan 34% berupa batuan ekstrusi 8%, batuan intrusi 9%, dan batuan metamorf 17%.

Adapun klarifikasi wacana pengertian dari batuan tapi yang akan kita bahas ketika ini bukanlah itu, melainkan Macam-macam Batuan (Batuan Beku, Batuan Sedimen, Malihan). Selamat belajar.

Macam-macam batuan

Berdasarkan proses terjadinya, batuan sanggup dibagi menjadi tiga bagian, yaitu sebagai berikut.
a. Batuan Beku (Igneous Rock)
Batuan beku atau igneous rock berasal dari bahasa latin inis yang berarti api (fire). Batuan beku merupakan batuan hasil pembentukan cairan  magma, baik di dalam maupun di atas permukaan bumi sehingga tekstur yang terbentuk sangat bergantung kondisi pembekuannya.
Magma panas yang bergerak dari dalam bumi ke permukaan semakin usang semakin hirau taacuh dan pada balasannya membeku. Batuan beku yang tidak mencapai permukaan bumi disebut batuan beku dalam atau batuan intrusi (plutonis).
Batuan merupakan benda alam yang menjadi penyusun utama di muka bumi Macam-macam Batuan (Batuan Beku, Batuan Sedimen, Malihan)
Proses pembekuan batuan plutonis berlangsung lambat sehingga menghasilkan bentuk kristal-krital besar yang sering disebut pula tekstur phaneritis. (Obsidian termasuk kelompok jenis batuan beku yang berasal dari pembekuan cairan magma.)

Sementara itu, ada pembentukan batuan sehabis mencapai per mukaan bumi sehingga dikenal dengan nama batuan beku luar atau batuan ekstrusi (batuan vulkanis). Batuan vulkanis dengan cepat sekali membeku sehingga jenis kristal batuannya besar, bersifat halus, dan sulit dilihat dengan mata telanjang. Batuan dengan mineral halus disebut tekstur aphanitis. Beberapa jenis batuan beku penting yang banyak terdapat di alam ialah granit, granodiorit, diorit, andesit, gabro, basal, kerikil beling (obsidian), kerikil apung, dan konglomerat. (Pegmatite termasuk pada jenis batuan beku yang terdapat di alam.)

b. Batuan Sedimen
Batuan endapan (sedimen) ialah jenis batuan yang terjadi alasannya adanya pengendapan materi hasil erosi. Sekitar 80% permukaan benua tertutup oleh batuan sedimen. Materi hasil pengikisan terdiri atas banyak sekali jenis partikel, ada yang halus, kasar, berat, dan juga ringan. Cara pengangkutannya
bermacam-macam, menyerupai terdorong (traction), terbawa secara melompatlompat (saltation), terbawa dalam bentuk suspensi, dan ada pula yang larut (salution).
Batuan merupakan benda alam yang menjadi penyusun utama di muka bumi Macam-macam Batuan (Batuan Beku, Batuan Sedimen, Malihan)
Klasifikasi batuan endapan bergantung kepada kriteria yang dipakai, yaitu sebagai berikut.
1) Berdasarkan Proses Pengendapannya
a) Batuan Sedimen Klastik, ialah batuan sedimen yang susunan kimianya sama dengan susunan kimia batuan asal. Artinya, batuan tersebut ketika diangkut hanya mengalami penghancuran secara
mekanik dari besar menjadi kecil. Batu gunung yang membukit akhir pelapukan, akan hancur berkeping-keping. Kepingan tersebut diangkut air hujan, longsor, atau berguling-guling di lereng dan masuk ke dalam sungai. Arus sungai membantingbanting kerikil itu sehingga menjadi bentukan kerikil, pasir, dan lumpur yang kemudian mengendapkannya di daerah baru. Inilah
yang disebut batuan sedimen klastik.

b) Batuan Sedimen Kimiawi, ialah batuan sedimen yang terbentuk bila dalam proses pengen dapan tersebut terjadi proses kimia, menyerupai pelarutan, penguapan, oksidasi, dan dehidrasi. Contohnya hujan yang terjadi di gunung kapur. Air hujan yang mengandung CO2 meresap ke dalam retakan halus pada kerikil gamping (CaCO3). Air itu melarutkan gamping yang dilaluinya menjadi larutan air kapur atau Ca(HCO3)2. Aliran larutan kapur itu balasannya hingga ke atap gua kapur. Tetesan air kapur tersebut membentuk stalaktit di atap gua dan stalagmit di dasar gua. Terjadinya stalaktit dan stalagmit akhir adanya pelarutan dan penguapan H2O dan CO2 pada waktu air kapur menetes. Kedua bentukan sedimen kapur tersebut disebut batuan sedimen kimiawi. (Geografi Hartono)

c) Batuan Sedimen Organik, ialah batuan sedimen yang terjadi alasannya selama proses peng endapannya menerima proteksi dari organisme. Sisa rumah, atau bangkai hewan bahari yang tertimbun di dasar laut, menyerupai kerang, terumbu karang, tulang belulang, kotoran burung guano yang menggunung di Peru, lapisan humus di hutan, dan organisme-organisme lainnya.

2) Berdasarkan Perantara atau Mediumnya

a) Batuan sedimen aeris (aeolis). Pengangkutan batuan ini ialah oleh angin. Misalnya: tanah los, tuff, dan pasir di gurun.
b) Batuan sedimen glasial. Pengangkutan batuan ini ialah dilakukan melalui madia mediator es. Contohnya moraine.
c) Batuan sedimen aquatis. Batuan sedimen yang terdiri atas batubatu yang sudah direkat antara satu sama lain.
Baca : 
Pengertian, Definisi, Pembentukan,Arah dan Asal Bentukkan dari Stalaktit dan Stalagmit.
c. Batuan Metamorf atau Malihan
Batuan malihan ialah batuan hasil ubahan dari batuan asal (batuan beku dan batuan endapan) akhir proses metamorfosis. Metamorfosis ialah suatu proses yang dialami batuan asal akhir dari adanya tekanan atau temperatur yang meningkat atau tekanan dan temperatur yang samasama
meningkat.
Batuan merupakan benda alam yang menjadi penyusun utama di muka bumi Macam-macam Batuan (Batuan Beku, Batuan Sedimen, Malihan)
(Salah satu jenis batuan metamorf yang terbentuk di alam. Batu tersebut berkhasiat bagi kehidupan manusia.)
Perubahan batuan sanggup terjadi alasannya majemuk hal, antara lain sebagai berikut.
1) Suhu tinggi, berasal dari magma alasannya berdekatan dengan dapur magma sehingga metamorfosis ini disebut metamorfosis kontak.
Misalnya: marmer dari kerikil kapur dan antrasit dari kerikil bara.
2) Tekanan tinggi, berasal dari adanya endapan-endapan yang sangat tebal di atasnya. Contohnya kerikil pasir dari pasir.
3) Tekanan dan suhu tinggi, terjadi bila ada pelipatan dan geseran pada waktu terjadi pembentukan pegunungan. Metamorfosis ini disebut metamorfosis dinamo. Misalnya, kerikil asbak dan kerikil tulis.
4) Penambahan materi lain, pada ketika terjadi perubahan bentuk terkadang terdapat penambahan materi lain. Jenis batuan metamorf tersebut dinamakan batuan metamorf pneumatalitis.

Demikian yang sanggup saya sampaikan mengenai materi Geografi. Semoga sanggup bermanfaat untuk anda semua dengan adanya Lapisan lapisan bumi mohon maaf bila ada kesalahan dalam penulisan ataupun pembahasan. Terimakasih.

Objek Material Dan Formal Geografi

3:20 AM Add Comment
Objek Material dan Formal Geografi-Ilmu merupakan pengetahuan yang telah tersusun secara sistematik dan terlihat dari sisi objek studi yang terperinci mempunyai ruang lingkup tertentu, membuatkan metode tertentu, mempunyai asas dan konsep serta membuatkan teori-teori terkait di dalamnya. Beberapa mahir telah banyak mengemukakan objek kajian dari disiplin ilmu geografi, akan tetapi semuanya mempunyai perbedaan. Jika diurutkan kembali, akan terlihat bahwa objek geografi terdiri atas dua aspek, yaitu material dan formal.

Untuk sanggup mempelajari lebih lanjut anda semua sanggup mempelajari dan membacanya sendiri artikel yang telah saya buat mengenai Objek Material dan Formal Geografi dibawah ini. Terimakasih.
Ilmu merupakan pengetahuan yang telah tersusun secara sistematik dan terlihat dari sisi ob Objek Material dan Formal Geografi

a. Objek Material

Objek material geografi ialah Geosfer yang terdiri atas Litosfer (lapisan kulit bumi), Atmosfer (lapisan udara), Hidrosfer (lapisan air), Biosfer (lapisan binatang dan tumbuhan), dan Antroposfer (lapisan manusia). Lapisan-lapisan tersebut bekerjsama dikaji pula oleh bidang ilmu lain. Contohnya kajian litosfer oleh Geologi, atmosfer oleh Klimatologi, Geofisika dan Meteorologi, hidrosfer oleh Hidrologi, biosfer oleh Biologi, dan antroposfer oleh disiplin ilmu, menyerupai Sosiologi, Antropologi, Politik, Ekonomi, dan disiplin ilmu-ilmu yang lainnya.

Di manakah letak geografi? Geografi mempelajari ilmu kebumian dan kehidupan insan secara terintegrasi. Geografi juga mempelajari korelasi dan pengaruhnya secara timbal balik antara faktor fisikal dan insan secara menyeluruh? Oleh alasannya itu, ilmu geografi berada pada dua pijakan antara ilmu alam dan ilmu sosial.

Adapun yang menjadi ciri-ciri geografi ialah sebagai berikut:
1. Geografi melihat permukaan bumi sebagai lingkungan hidup insan dan lingkungan yang besar lengan berkuasa terhadap kehidupan manusia.
2. Geografi melihat penyebaran insan dalam ruang dan bagai mana ruang dengan segala sumber dayanya.
3. Geografi melihat ciri khas suatu kawasan sehingga persamaan dan perbedaan dari wilayah di permukaan bumi sanggup terlihat dengan jelas.
4. Dalam mempelajari suatu fenomena atau gejala, geografi selalu mengaitkannya dengan unsur letak, jarak, penyebaran, interelasi, gerakan, dan regionalisasi dari suatu wilayah.

Sebagai misalnya dalam mengkaji duduk perkara banjir. Geografi tidak hanya melihat luas genangan, kedalaman, dan pengaruhnya terhadap kehidupan manusia, tetapi dikaji juga bagaimana latar belakang timbulnya fenomena banjir tersebut. Bagaimana penggunaan lahan di kawasan hulu, penggarapan lahan, kemiringan lereng, intensitas hujan, dan faktor sosial budaya penduduk setempat di kawasan hulu sungai. Kajian jumlah dan kepadatan penduduk, pemilikan lahan, cara penggarapan lahan, tingkat pendidikan, pendapatan, dan kebiasaan-kebiasaan lainnya dalam memanfaatkan potensi lingkungan. Kemudian, diamati juga bagaimana peranan kawasan hilir sebagai kawasan limpasan air, menyerupai lebar kedalaman sungai, penggunaan lahan, dan faktor sosial, budaya, serta ekonomi penduduk setempat di sekitar sungai.

b. Objek Formal

Objek formal geografi ialah cara pandang dan berpikir terhadap tanda-tanda yang ada di permukaan bumi. Gejala tersebut baik berupa keadaan fisik maupun keadaan sosialnya. Cara pandang geografi terhadap objek formal sanggup dilihat dari organisasi keruangan (spatial setting) yang meliputi:
1. pola persebaran tanda-tanda tertentu di permukaan bumi (spatial pattern);
2. keterkaitan atau korelasi yang terjadi antargejala atau fenomena tersebut (spatial system); dan
3. perkembangan atau perubahan yang terjadi pada tanda-tanda tersebut (spatial process).

Dari pandangan objek formal, maka akan muncul beberapa pertanyaan yang dikenal dengan 5 WH + 1H. Pertanyaan-pertanyaan tersebut untuk mengetahui gejala-gejala yang terdapat di permukaan bumi sehingga hasil uraiannya terperinci sebagai cara pandang geografi. Pertanyaan-pertanyaan tersebut yaitu sebagai berikut.

1. What
Pertanyaan yang diajukan untuk mengetahui apa yang terjadi.
2. Where
Pertanyaan mengenai lokasi, persebaran fenomena atau tanda-tanda di permukaan bumi dengan tujuan untuk mengetahui di mana fenomena atau tanda-tanda tersebut terjadi.
3. When
Pertanyaan ini diajukan untuk mengetahui kapan kejadian tersebut terjadi.
4. Why
Pertanyaan ini diajukan untuk mengetahui mengapa kejadian tersebut sanggup terjadi.
5. Who
Pertanyaan ini untuk mencari pelaku dari terjadinya suatu kejadian di alam, semoga orang mengetahui siapa yang bertanggung jawab atas terjadinya kejadian tersebut atau individu yang terlibat di dalamnya.
6. How
Pertanyaan ini untuk mencari balasan dari bagaimana kejadian tersebut seharusnya sanggup diselesaikan dengan baik.

Contoh penerapan aplikasi penggunaan 5WH + 1H dalam mengkaji peristiwa tsunami di Nanggroe Aceh Darussalam, yaitu sebagai berikut.

1. (What)
Apa yang terjadi? Bencana alam tsunami.
2. (Where)
Di mana terjadi peristiwa tersebut? Di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dan sebagian Provinsi Sumatra Utara belahan barat.
3. (When)
Kapan terjadi peristiwa tsunami tersebut? Pada Minggu pagi, sekitar pukul 08.40 WIB, 26 Desember 2004.
4. (Why)
Mengapa terjadi peristiwa tersebut? Bencana tersebut terjadi alasannya pergerakan (dislokasi dan deformasi) lempeng tektonik Samudra Hindia-Australia yang bergesekan dengan lempeng tektonik Benua Eurasia (bagian Sumatra). Terjadi gempa bumi ber kekuatan 9,2 skala richter di dasar bahari Samudra Hindia. Akibatnya, air bahari yang berada di atasnya terpengaruh dan menjadi gelombang besar (tsunami). Gelombang menyapu kota serta desa-desa yang berada di sepanjang pantai barat Aceh dan sekitarnya.
5. (Who)
Siapa yang menyebabkannya? Tenaga yang berasal dari dalam bumi (tenaga endogen) dan luar bumi (tenaga eksogen) yang menimbulkan terjadinya gempa bumi berupa gelombang tsunami.
6. (How)
Bagaimana cara menanggulanginya? Daerah sepanjang pantai barat Pulau Sumatra merupakan kawasan yang berpotensi sering terjadi gempa bumi dan tsunami. Oleh alasannya itu, cara penanggulangan peristiwa tersebut antara lain sebagai berikut.
a. Pembuatan undang-undang untuk tidak mendirikan bangunan permanen apalagi berbentuk kota besar di sepanjang kawasan jalur gempa dan tsunami yang tertuang dalam undang-undang perencanaan wilayah.
b. Memberikan penyuluhan (public education) kepada penduduk wacana kondisi geologis kawasan yang berpotensi akan terjadinya gempa bumi dan tsunami. Sehingga setiap individu selalu waspada terhadap kemungkinan terjadinya gempa bumi yang disertai gelombang tsunami.
c. Pengembangan sistem pemantauan terhadap gempa bumi dan tsunami.
d. Pengembangan sistem peringatan dini di kawasan rawan gempa bumi dan tsunami.

Tema yang paling fundamental dari objek formal geografi ialah region yaitu kesatuan kawasan yang mengatakan karakteristik tertentu atau ciri khas yang sanggup dibedakan dengan kawasan lainnya. Karakteristik atau ciri khas suatu tempat sanggup berupa karakteristik aspek fisik, manusia, atau adonan dari keduanya. Terdapat banyak cara untuk memilih region bergantung pada kriteria apa yang akan dipergunakan (fisik, sosial, acara ekonomi, budaya, politik, bahasa, agama, etnik, dan kriteria-kriteria lainnya). Ruang lingkup atau cakupan region pun sangat bervariasi, menyerupai desa, kota, kabupaten, provinsi, negara, atau himpunan-himpunan internasional, misalnya region Asia Tenggara. Regionalisasi intinya ialah pengumpulan, peng klasifikasian atau pengelompokan wilayah ke dalam wilayah yang sejenis. Dari pengelom pokan tersebut pada akibatnya akan tampak kawasan yang mengatakan adanya persamaan dan perbedaan.

Mungkin itu saja yang sanggup saya sampaikan mengenai materi Geografi. Semoga sanggup bermanfaat untuk anda semua khususnya dalam mengetahui semua keadaan alam sekitar alasannya sudah mengetahui tentang Objek Material dan Formal Geografi ini. Terimakasih.

Pengertian Pendekatan Geografi / Pendekatan Keruangan, Ekologi, Historis, Dan Pendekatan Sistem

1:20 AM Add Comment
Pengertian Pendekatan Geografi / Pendekatan Keruangan, Ekologi, Historis, Dan Pendekatan Sistem
Pengertian Pendekatan Geografi / Pendekatan Keruangan, Ekologi, Historis, dan Pendekatan Sistem. Geografi mempelajari geosfer dengan memakai pendekatan kelingkungan dan kewilayahan dalam konteks keruangan. Pendekatan kelingkungan artinya geografi selalu melihat bagaimana korelasi dan keterkaitan antara aspek fisikal dan makhluk hidup lainnya pada ruang permukaan bumi.

Pendekatan kewilayahan atau regional artinya geografi selalu melihat ruang sebagai wadah yang mempunyai keunikan atau perbedaan dengan wilayah lainnya sebagai hasil interelasi dan integrasi antara aspek fisik dan insan yang berada di dalamnya.

Konteks keruangan artinya geografi selalu melihat ruang dalam pengertian tiga dimensi, yaitu atas (atmosfer), bawah (litosfer), dan luasan (hidrosfer, biosfer, dan antroposfer). Geografi selalu melihat
contoh penye baran suatu fenomena dalam ruang atau permukaan bumi, bagaimana keterkaitan antara fenomena dengan fenomena lain yang berbeda di suatu tempat, fenomena suatu tempat dengan fenomena lain

di lain tempat, dan bagaimana imbas dari suatu fenomena (gejala) terhadap fenomena (gejala) lain dalam ruang yang jauh lebih luas. Pendekatan yang dipakai tidak hanya dari sudut aspek keruangannya, tetapi dari aspek-aspek yang lainnya.Untuk selanjutnya wacana klarifikasi meteri kali ini anda sanggup baca mengenai materi Pengertian Pendekatan Geografi / Pendekatan Keruangan, Ekologi, Historis, dan Pendekatan Sistem di bawah ini.

Pengertian Pendekatan Geografi/Pendekatan Keruangan, Ekologi, Historis, dan Pendekatan Sistem

Menurut Nursid Sumaatmadja, terdapat empat jenis pendekatan geografi, yaitu sebagai berikut :

1. Pendekatan Keruangan (Spatial Approach)

Pendekatan keruangan terbagi menjadi tiga bagian, yaitu sebagai berikut.
  1. Pendekatan Topik, yaitu pendekatan yang menitikberatkan pada topik utama dari suatu tanda-tanda dan persoalan pada studi geografi. Misalnya, topik utama yang terjadi di Indonesia yakni gempa bumi yang melanda Yogyakarta, Jawa Tengah, dan pantai selatan Jawa Barat.
  2. Pendekatan Aktivitas Manusia, yaitu pendekatan yang fokus utamanya yakni kegiatan insan (human activities). Pendekatan ini sanggup dipakai untuk mengkaji fenomena mata pencarian penduduk di pada suatu wilayah, serta apakah fenomena itu terjadi di dataran rendah, pegunungan, atau tempat pantai. Berdasarkan persebaran tersebut sanggup pula diungkapkan interelasinya dengan keadaan kesuburan tanah, hidrografi, atau iklim.
  3. Pendekatan Region, yaitu pendekatan yang fokus utamanya yakni region atau wilayah tempat suatu tanda-tanda dan persoalan geografi tersebut terjadi. Misalnya, dalam mengkaji gempa bumi di Yogyakarta, Jawa Tengah, dan pantai selatan Jawa Barat. Pertanyaan yang muncul yakni mengapa di wilayah tersebut sanggup terjadi bencana? Bagaimana persebaran tanda-tanda dan persoalan tersebut di permukaan bumi, dan faktor apa yang menjadi sebabnya.

2. Pendekatan Ekologi (Ecological Approach)

Pendekatan ekologi yakni suatu pendekatan yang dipakai untuk menelaah dan menganalisis suatu tanda-tanda dan persoalan geografi dengan menerapkan konsep dan prinsip ekologi. Ekologi mempelajari korelasi timbal balik antara insan dan lingkungannya yang membentuk suatu sistem ekologi atau ekosistem. Misalnya, dalam mengkaji suatu tempat permukiman maka yang ditinjau yakni bentuk ekosistem hasil interaksi persebaran dan kegiatan insan dengan lingkungan alamnya. Demikian pula kalau mengkaji tempat pertanian, perdagangan, industri, atau pariwisata.

3. Pendekatan Historis (Historycal Aproach)

Pengertian Pendekatan historis yakni suatu pendekatan yang menganalisis tanda-tanda dan persoalan geografi menurut proses kronologi serta memprediksi proses tanda-tanda dan persoalan tersebut pada masa yang akan datang. Gejala dan persoalan yang sanggup dikaji dengan memakai pendekatan historis yakni perkembangan kota. Dengan tunjangan peta sanggup diketahui perkembangan suatu kota dari waktu ke waktu, kecenderungan arah perkembangan kota tersebut, dan faktor pendorongnya sehingga sanggup disusun suatu perencanaan tata ruang untuk menunjang perkem bangan kota tersebut. (Geografi Hartono).

4. Pendekatan Sistem (System Approach)

Pendekatan sistem yakni suatu pendekatan dengan memakai cara berpikir sintetik yang diterapkan pada suatu tanda-tanda dan persoalan dalam suatu sistem keruangan.Cara berpikir sintetik yakni suatu cara berpikir dalam mengkaji dan menganalisis suatu benda atau persoalan sebagai belahan dari suatu sistem. Dalam melaksanakan kajian pada fenomena alam sanggup pula memakai pendekatan sistem.

Misalnya, kajian wacana pertanian di suatu wilayah. Pertanian merupakan suatu sistem yang terdiri dari subsistem-subsistem menyerupai jenis tanah, iklim, teknologi, dan sumber daya manusia. Dengan memakai pendekatan sistem, sanggup diketahui tanda-tanda pertanian pada suatu sistem keruangan dengan segala komponen atau subsistemnya.

Demikian Materi Geografi kali ini yang sanggup aku share mengenai pembahasan Pengertian Pendekatan Geografi / Pendekatan Keruangan, Ekologi, Historis, dan Pendekatan Sistem, agar sanggup membantu anda semua dalam pembahasan ini.Sekian Dan Terimaksih